Survei indEX: Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 55,6%, Prabowo-Sandi 32,3%

Antara, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 13:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 12 605 2003524 survei-index-elektabilitas-jokowi-ma-ruf-55-6-prabowo-sandi-32-3-5WpLpglxwV.jpeg Pasangan capres-cawapres, Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Foto: Okezone)

JAKARTA - Elektabilitas calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin tetap mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di tengah isu politisasi agama. Hal itu diketahui dari hasil survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research.

"Temuan lembaga survei indEX Research menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tetap jauh mengungguli pasangan Prabowo-Sandi," kata Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni seperti dikutip dari Antaranews.com di Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

(Baca Juga: Ma'ruf Amin Istigasah dan Ziarah ke Makam Syekh Maulana di Depok)

Survei indEX Research dilakukan pada 17-28 Desember 2018, dengan jumlah responden 1.200 orang. Metode survei multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Vivin mengatakan, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 55,6 persen, terpaut 20 persen dibanding Prabowo-Sandi yang meraih 32,3 persen. Sementara sisanya sebanyak 12,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

survei indEX

Menurutnya, jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya pada periode November 2018, elektabilitas kedua pasangan calon cenderung tidak berubah signifikan.

(Baca Juga: 2 Hari Sebelum Debat Pilpres, BPN Akan Poles Prabowo-Sandiaga)

Sebelumnya, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 54,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 30,6 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab turun dari sebelumnya 14,8 persen.

Ia menilai, meskipun sudah tidak lagi efektif sebagai strategi politik, namun politisasi agama tidak akan menghilang begitu saja. Gelombang politik identitas bernuansa agama, kata dia, terus menjadi komoditas oleh elite-elite politik setelah memuncak pada Pilkada DKI Jakarta.

Politisasi agama dipandang masih mewarnai wacana publik jelang pemilu serentak pada April mendatang. “Perdebatan tentang hubungan agama dan negara sudah setua umur Republik, sudah saatnya wacana tersebut dikelola dengan baik setelah dinamika pasca-reformasi silam,” ungkap Vivin.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini