nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PBNU Sebut Pemindahan Kuburan karena Beda Pilihan Koyak Rasa Kemanusiaan

Amril Amarullah, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 14:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 13 340 2003805 pbnu-sebut-pemindahan-kuburan-karena-beda-pilihan-koyak-rasa-kemanusiaan-2ksBB2gpga.jpg Foto: Jufri Tonapa/iNews

MALANG - Berita pemindahan dua janazah yang telah dikebumikan karena beda pilihan caleg dengan pemilik tanah kuburan sangat mengoyak rasa kemanusiaan.

Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas menjelaskan, politik yang seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri.

"Nampak bahwa politik hanya dipahami sebagai sarana mendapatkan kekuasaan. Tidak penting bagaimana cara meraihnya," ucap Robikin dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (13/1/2019).

Robikin menambahkan, kesan penghalalan segala cara dalam meraih kekuasaan politik tidak hanya terjadi dalam perebutan kursi legislatif sebagaimana kasus pemindahan jenazah ke kuburan lain yang terjadi di Gorontalo. Namun juga dalam Pilpres. Politisasi agama, penggunaan fake news dan hoax sebagai mesin elektoral dapat disebut sebagai contohnya.

(Baca Juga: Gara-Gara Beda Pilihan Caleg, Makam Kakek dan Cucu di Gorontalo Dipindah)

"Seakan tak peduli dampak yang ditimbulkan. Hubungan kekerabatan pecah, persahabatan retak, tetangga dikategorikan sebagai lawan. Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik," katanya.

Kalau tidak dihentikan, lanjut Robikin, hal seperti ini dapat merusak kohesivitas sosial dan harmoni masyarakat. Ujungnya, ketahanan sosial dan persatuan serta kesatuan bangsa menjadi taruhannya.

(Baca Juga: Makam Dipindahkan karena Beda Pilihan Caleg, Ini Kata MUI soal Pemindahan Makam)

Sebagai pesta demokrasi pemilu seharusnya menjadi kegembiraan nasional. Layaknya pesta yang tak perlu ada satu pun gelas pecah.

"Semoga peristiwa memilukan pemindahan kuburan akibat beda pilihan politik di Gorontalo menjadi satu-satunya kejadian dan tak terulang di kemudian hari. Toh, politik adalah sarana pemanusiaan manusia," tuturnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini