nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengakuan Mantan Sekretaris MA soal Sejumlah Mata Uang Asing yang Disita KPK

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 21 Januari 2019 14:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 21 337 2007292 pengakuan-mantan-sekretaris-ma-soal-sejumlah-mata-uang-asing-yang-disita-kpk-BLKpHh2YTw.jpg Sidang OTT PN Japus (FOto: Arie/Okezone)

JAKARTA - Tim Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan suap pemulusan sejumlah perkara yang berproses di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk terdakwa Eddy Sindoro.

Dalam persidangan, tim jaksa mencecar Nurhadi terkait sejumlah mata uan‎g asing yang disita KPK dari kediamannya beberapa waktu silam. Diketahui, KPK menyita sekira Rp1,7 miliar dalam berbagai mata uang asing di kediaman Nurhadi di Jalan Hang Lekir, Kebayoran Baru, Jakarta.

"Dalam perkara ini, ada sejumlah uang yang disita KPK dari rumah saudara?," tanya Jaksa Abdul Basir kepada Nurhadi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Baca Juga: Eddy Sindoro Akhirnya Menyerahkan Diri ke KPK Setelah 2 Tahun Buron

KPK

Menjawab pertanyaan Jaksa, Nurhadi mengaku telah menuangkan rincian jawabannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saat diperiksa di proses penyidikan. ‎Nurhadi mengklaim, sebagian uang yang disita merupakan sisa perjalanan dinasnya.

"Uang itu adalah sebagian besar sisa-sisa perjalanan dinas saya. Dan sebagian besar adalah uang saya sendiri untuk keperluan sepanjang perjalanan dinas," jawab Nurhadi.

Jaksa kembali mencecar Nurhadi soal sumber uang miliknya yang disita KPK selain dari sisa perjalanan dinas. Dikatakan Nurhadi, uang ‎yang bukan dari sisa perjalanan dinas berasal dari usaha sarang burung walet.

"Saya pengusaha burung dan itu rutin setiap periode tertentu panen, alamat saya juga ada di LHKPN, kemudian akumulasi hasil panen kita kumpulkan, itu sumber penghasilan saya diluar kantor," terangnya.

Baca Juga: Perjalanan Panjang Pelarian Eddy Sindoro hingga Menyerahkan Diri ke KPK

KPK

Dalam perkara ini, Eddy Sindoro didakwa memberikan suap sebesar Rp150 juta dan 50.000 dolar Amerika Serikat kepada panitera PN Jakarta Pusat, Edy Nasution. Menurut jaksa, uang tersebut diberikan agar Edy menunda proses pelaksanaan aanmaning terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (PT MTP).

Suap juga sebagai pelicin agar Edy menerima pendaftaran peninjauan kembali (PK) PT Across Asia Limited (PT AAL) meskipun sudah melewati batas waktu yang ditentukan oleh undang-undang.

Semantara nama Nurhadi kerap muncul dalam beberapa persidangan perkara ini. Nurhadi kembali disebut dalam dakwaan Eddy Sindoro. Nurhadi pernah disebut berperan mempercepat pengurusan PK perkara niaga PT AAL.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini