MEXICO CITY – Amerika Serikat (AS) akan memulangkan kelompok migran pertama yang mencari suaka AS ke kota perbatasan Meksiko, Tijuana pada Jumat, 25 Januari. Hal tersebut disampaikan oleh seorang juru bicara pemerintahan Meksiko pada Kamis.
Pemerintahan Presiden AS, Donald Trump telah mengatakan pada 20 Desember akan mengirim para migran non-Meksiko yang melintasi perbatasan selatan AS untuk menunggu di Meksiko selagi permintaan suaka mereka diproses.
BACA JUGA: Atasi 'Invasi' Imigran, AS Kerahkan Lebih Dari 5.000 Serdadu Ke Perbatasan Meksiko
Diwartakan Reuters pada Jumat (25/1/19), seorang juru bicara anonim tidak menyebutkan kewarganegaan mereka yang akan dipulangkan kembali ke Meksiko, meskipun kebijakan tersebut bertujuan untuk membantu mengatasi meningkatnya jumlah penduduk Amerika Tengah yang mencari suaka di AS.
Kedua negara telah mengadakan dua pertemuan untuk membahas rincian rencana pemulangan para migran tersebut. Meksiko sendiri tidak akan menerima siapa pun yang menghadapi ancaman kredibel di wilayah Meksiko.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS tidak segera menanggapi komentar tentang kapan program akan dimulai, meskipun seorang pegawai departemen mengatakan kebijakan itu tidak akan berlaku untuk populasi rentan tertentu dan anak di bawah umur tanpa pendamping.
Ada keraguan serius apakah Meksiko dapat menjaga para pencari suaka Amerika Tengah yang melarikan diri dari kemiskinan dan kejahatan, terutama di kota-kota perbatasan yang seringkali malah lebih ganas daripada kota-kota yang mereka tinggalkan sebelumnya.
Sampai saat ini belum jelas bagaimana Meksiko berencana menampung ribuan pencari suaka selama berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Masih ada lebih dari 800.000 kasus yang menunggu di pengadilan imigrasi.
Program yang dijuluki dengan Protokol Perlindungan Migran oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS merupakan salah satu dari serangkaian tindakan yang diambil oleh pemerintahan Trump dengan tujuan untuk mempersulit orang Amerika Tengah memasuki Amerika Serikat di bawah undang-undang suaka.
Presiden Donald Trump berpendapat bahwa sistem suaka AS telah disalahgunakan, menyebut proses di mana banyak migran dibebaskan di AS untuk menunggu persidangan imigrasi “menangkap dan melepaskan”.
BACA JUGA: Donald Trump: Pemisahan Anak Imigran Ilegal dari Orang Tuanya 'Menyedihkan'
Trump menuntut biaya sebesar USD5,7 miliar (sekira Rp80 triliun) untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan Meksiko. Hal tersebut memicu penutupan sebagian pemerintah AS yang telah berlangsung hingga hari ke-34 dan telah menyebabkan 800.000 pekerja federal tanpa bayaran.
Penyeberangan ilegal di perbatasan selatan memang menurun secara dramatis sejak yang tertinggi dalam beberapa dekade sebelumnya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, lebih banyak keluarga Amerika Tengah dan anak-anak yang tidak didampingi bermigrasi ke Amerika Serikat dan permohonan suaka akhirnya meningkat.
Menurut data pemerintahan AS, tahun lalu, terdapat sekira 93.000 orang yang mencari suaka di wilayah perbatasan selatan, naik 67 persen dari 2017.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.