Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen

Bramantyo , Jurnalis-Sabtu, 02 Februari 2019 |13:02 WIB
Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen
A
A
A

SRAGEN - Seiring tingginya curah hujan yang turun belakangan ini, berdampak terhadap kesehatan manusia. Genangan air yang dihasilkan dari hujan menimbulkan berbagai macam penyakit. Mulai dari flu, diare hingga demam berdarah. Poin terakhir inilah, yang saat ini hampir terjadi di seluruh wilayah d Indonesia, salah satunya di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Di Sragen, wabah mematikan yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti inipun begitu cepat menyebar di berbagai wilayah di kabupaten yang terkenal dengan julukan Bumi Sukowati ini. Merebaknya wabah yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti membuat Pemerintah setempat kalang kabut. Bahkan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati langsung menetapkan status Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB) wilayah yang dipimpinya.

Dari data yang diterima Bupati, sebanyak 588 terlapor kasus DBD di Kabupaten Sragen per 28 Januari 2019, namun yang terverifikasi positif DBD hanya 265 jiwa. Hal tersebut menunjukan "Hantu DBD" begitu menakutkan bagi warga Sragen dan sekitarnya.

 Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Foto: Bram/Okezone)

"Data kasus DBD yang sudah masuk sebanyak 588 kasus menjadi 265 kasus," jelas Yuni pada wartawan di ruang kerjanya baru-baru ini.

Langkah cepat langsung diambil dengan menggelar rapat yang melibatkan unsur kesehatan. Mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas dan rumah sakit. Yuni menyampaikan 588 kasus tersebut karena masyarakat terlalu dini menyebut itu adalah DBD.

"Flu dikatakan DBD, trombosit turun dikatakan DBD, demam panas dikatakan DBD, masyarakat terlalui terburu-buru mengatakan DBD. Untuk itu saya minta dokter di setiap rumah sakit harus berhati-hati dalam mendiagnosis pasien demam berdarah atau bukan," ujarnya.

Dari 588 kasus DBD terverifikasi 347. Sebanyak 265 terverifikasi DBD, dan 82 terverifikasi Demam Dengue (DD).

"Pemerintah Sragen per 15 Januari 2019 sudah melakukan intervensi atau tindakan agar tidak semakin banyaknya kasus DBD dengan mendirikan pos kesehatan di puskesmas yang tersebar di 20 kecamatan Kabupaten Sragen," jelasnya.

Pendirian posko DBD ini selain untuk menekan agar kasus Demam Berdarah turun, juga, ungkap Yuni, untuk intervensi permohonan masyarakat untuk Fogging dan melaksanakan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Yuni mengakui, meskipun jumlah penderita DBD mengalami penurunan, namun wilayah Utara Bengawan Solo seperti Kecamatan Mondokan, Tangen, Tanon, Sumberlawang, dan Gemolong masih berada di lima deretan daerah dengan penderita DBD paling banyak.

Penurunan data kasus DBD mulai dirasakan setelah 10 hari didirikan posko-posko siaga di setiap daerah. Angka kematian per 28 Januari sendiri dalam kasus DBD sebanyak 3 orang.

"Melihat itu, kami menyatakan Kabupaten Sragen berstatus kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB)," tegas Yuni.

Yuni optimis bahwa Pemerintah bisa mengurangi bahkan mencegah DBD di Kabupaten menjadi KLB. Yuni berharap semua lapisan masyarakat bisa mencegah terjadinya DBD.

"Jika tidak waspada status KLB bisa benar-benar terjadi," ujar.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement