Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen

Bramantyo , Jurnalis-Sabtu, 02 Februari 2019 |13:02 WIB
Trauma Demam Berdarah Hantui Sragen
A
A
A

Senada, Kepala Dinas Kabupaten Sragen Hargiyanto mengatakan penanganan intensif di masa musim tak menentu ini terus dilakukan. Salah satunya dengan mendirikan posko kewaspadaan. Saat ini, posko kewaspadaan itu sudah berdiri di 20 Kecamatan.

"Kewaspadaan di kelurahaan puskesmas, rumah sakit. Di setiap desa posko berdiri dikoordinasi bidan desa. Di kecamatan juga dibuat posko. Di dinas kita juga buat. Jadi kita harus waspada karena karena musimnya ini loh. Kadang hujan terus panas dan hujan lagi. Tidak menentu,"papar Hargiyanto.

Diakui Hargiyanto, di awal bulan Januari 2019 ini saja, sudah tiga orang warga terserang Demam Berdarah. Adannya warga yang terkena demam berdarah membuat pihaknya bergerak cepat dengan memerintahkan pada seluruh puskesmas hingga rumah sakit untuk terus memperbaharui data informasi ketersediaan kamar.

Informasi ketersediaan kamar, baik di Puskesmas mapun di rumah sakit ini sangat dibutuhkan. Pasalnya, begitu mendapatkan warga yang butuh pertolongan cepat, pihaknya bisa mengetahui puskesmas mana atau rumah sakit mana yang kamarnya masih tersedia.

"Kalau rumah sakit yang di stand bye kan khusus penderita Demam Berdarah, tidak ada. Tapi, kita mewajibkan puskesmas maupun rumah sakit untuk terus memperbahurui kamar-kamar yang kosong berapa. Jadi begitu ada kejadian, kita tahu mana puskesmas yang kamarnya ada dan mana rumah sakit yang kamarnya tersedia,"terangnya.

Namun yang terpenting, ungkap Hargiyanto, masyarakat tidak menganggap gerakan Menguras, Menutup dan Mengubur (3M), itu angin lalu. Pasalnya, meskipun sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M terus dilakukan, namun respon masyarakat terhadap gerakan itu sangat minim sekali.

"Yang terpenting itu bagaimana menyadarkan masyarakat pemberantasan sarang nyamun melalui gerakan 3M. Pasalnya selama ini masyarakat kerap menggap gerakan 3M itu angin lalu belaka," terangnya.

Pandangan berbeda justru di utarakan anggota Komisi IV DPRD Sragen dari Fraksi PKB Faturahman. Menurut Faturahman, status kewaspadaan Kejadian Luar Biasa seharusnya tidak perlu diterapkan bila masing-masing pihak, mulai dari Bupati hingga lapisan terbawah sadar akan kebersihan lingkungan.

Apalagi wabah Demam Berdarah yang belakangan ini kembali merebak itu merupakan siklus lima tahunan. Namun yang terjadi, banyak masyarakat yang lupa bila ada kemarau panjang terjadi, pasti dalam waktu dekat akan terjadi musim penghujan yang juga panjang.

"Masyarakat memang antisispasinya kurang. Mereka lupa begitu terjadi kemarau panjang, kita lupa sebentar lagi pasti turun hujan. Nah, ini yang menjadi problem. Jadi masyarakat terlena dengan kondisi itu dan akhirnya banyakalah bintik nyamuk tumbuh dilingkungan masyarakat," ucap Faturahman pada Okezone.

Agar kasus ini tak terulang kembali setiap tahunnya, maka perlu dilakukan penangan khusus. Dimana, mulai dari Dinas Kesehatan hingga pemerintahan di tingkat desa, perlu adannya kerjasama. Apalagi pimpinan di Kabupaten Sragen adalah seorang dokter yang sangat paham apa yang seharusnya dilakukan.

Salah satunya, ada gerakan secara keseluruhan melibatkan mayarakat untuk serentak se kabupaten yang dikoordinator lurah masing-masing ditiap desa untuk menetapkan satu hari atau dua hari guna melakukan bersih-bersih lingkungan.

"Bupati harus terjun langsung untuk membuka gerakan itu. Tanpa itu sulit dan akan terus terulang dan terulang lagi. Termasuk salah satunya kita tidak mengantisipasi alokasi di APBD untuk menangani masalah Demam Berdarah. Tapi meski tidak menganggarkan, bisa kita ambil di pos lain-lain,"terangnya.

Merebaknya Wabah demam berdarah di semua desa di wilayah Kabupaten Sragen membuat permohonan untuk dilakukan fogging atau pengasapan yang masuk ke Rescue Partai Perindo pun melonjak. Ketua DPD Rescue Partai Perindo Kabupaten Sragen Abdullah mengakui banyak permohonan dari warga yang masuk kepihaknya untuk dilakukan fogging.

"Permohonan untuk dilakukan fogging yang masuk pada kami, mengalami peningkatan. Permohonan fogging itu dilakukan karena warga banyak yang takut bila wabah Demam Berdara merebah,"terang Abdullah pada Okezone.

Diakui oleh Abdullah, permohonan paling banyak wilayahnya di-fogging, datang dari daerah-daerah di Kabupaten Sragen yang letaknya berdekatan dengan aliran sungai Bengawan Solo. Guna mengantispasi penyebaran nyamuk DBD saat musim pancaroba ini, secara bertahap, rescue Perindo pun mulai melakukan fogging sesuai permintaan warga.Menurutnya, atas kesigapan dari rescue perindo, warga setempat sangat antusias mendapat fogging

“Kebetulan ada permintaan warga, kita langsung merespons cepat. Kemarin minta, hari ini langsung kita tindak,” ujarnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement