JAKARTA - Tewasnya salah satu taruna dari Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Makassar, Sulawesi Selatan bernama Aldama Putra sempat ditutupi oleh pihak kampus dengan mengatakan bahwa muridnya meninggal karena jatuh di kamar mandi.
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati menilai keputusan kampus mencoba menutupi penyebab kasus tersebut merupakan cara-cara primitif.
"Sekarang diera keterbukaan seperti ini, sulit sebenarnya bagi kampus atau organisasi apa pun untuk menutupi kesalahan. Ini cara-cara kalau dalam krisis komunikasi. Itu cara-cara yang primitif," ujar Devie Rahmawati kepada Okezone, Rabu (6/2/2019).
Devie melanjutkan jika institusi melakukan kesalahan dan memutuskan untuk menghindari masalah itu, maka hal tersebut justru memperlihatkan kepada publik bahwa sebuah institusi tidak memiliki sistem yang baik.
"Ketika Anda kemudian menghindari dari problem (masalah-red), kemudian mengambil pilihan untuk bahkan menyalahkan pihak lain, yang kemudian malah justru membuat Anda terlihat sekali tidak memiliki sistem," tuturnya.
Baca: Sebelum Tewas, Aldama Curhat ke Sahabatnya soal Kekerasan di ATKP Makassar
Baca: Tewas Dikeroyok Senior, Kampus Beri Kabar ke Orangtua Aldama Jatuh dari Kamar Mandi
Devie menyarankan agar sebuah institusi lebih mementingkan langkah apa ke depan agar kasus tersebut tidak terulang kembali.
"Kalau memang sudah terjadi, langkah ke depannya yang terpenting sebenarnya program apa yang dilakukan agar ini tidak terjadi lagi. Karena kita tahu ini bisa terjadi di mana pun. Kita juga menyayangkan orang-orang yang mengambil hak orang atau individu yang untuk menghindari masalah," papar Devie.
(Rachmat Fahzry)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.