nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hikayat Mbah Jangkung, Sang Penyebar Islam di Boyolali

Agregasi Solopos, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 10:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 13 512 2017217 hikayat-mbah-jangkung-sang-penyebar-islam-di-boyolali-zZVkgppRyf.jpg Makam Mbah Jangkung di Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah (Foto: Solopos)

BOYOLALI - Di Dukuh Jangkungan, Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali, sepetak makam dengan pembatas berupa pagar tembok berwarna hijau tampak mencolok di tengah perkebunan jati desa setempat.

Pagar tembok yang menjadi pembatas makam dihiasi kaligrafi kuning di dalamnya yang merupakan kutipan ayat suci Alquran. Hanya ada dua buah batu nisan di sana, semuanya berwarna hitam tanpa terukir nama.

Satu batu nisan dilengkapi kijing terletak di dalam pagar. Sisi kanan dan kiri nisan itu tertutup kain kafan putih, sementara bagian tengahnya yang cekung dipenuhi bunga tabur. Meski tanpa ukiran, warga Glonggong percaya bahwa makam tersebut merupakan makam Mbah Jangkung. Sementara satu makam yang lain terletak di pagar tembok dan belum diketahui secara pasti identitasnya.

Mbah Jangkung ini pula lah yang menjadi cikal bakal penamaan Dukuh Jangkungan. Kabarnya Kiai Jangkung merupakan satu dari dua tokoh sentral dalam sejarah Desa Glonggong.

Satu tokoh lain bernama Mbah Dudo yang makamnya juga terletak di kawasan Desa Glonggong. Legenda lokal yang berkembang mengisahkan awalnya wilayah Glonggong dan Nogosari didiami oleh Mbah Dudo sebagai tetua masyarakat. Warga di sana hidup dalam tradisi Jawa yang kental sebelum Islam datang.

"Pembawa Islam ke Glonggong dan Nogosari yang pertama ya Kiai Jangkung ini,” kata tokoh masyarakat setempat, Isniawan (42) dikutip dari laman Solopos.com, Rabu (13/2/2019).

Sebelum berdakwah, sebagai seorang pendatang Kiai Jangkung harus memenuhi sejumlah syarat yang diajukan oleh Mbah Dudo. Dia diminta menanam ribuan pohon nagasari di tanah yang dulunya tandus itu.

Tak ada penjelasan secara pasti mengenai alasan pemilihan pohon itu. Namun kemudian nama nagasari diabadikan sebagai nama Kecamatan Nogosari. Desa Glonggong menjadi ibu kota kecamatan itu. Berdasarkan penelusuran, Pohon Nogosari merupakan pohon yang termasuk dalam jenis tumbuhan Sapotaceae atau sawo-sawoan. Tinggi pohon bisa mencapai 12 meter dan termasuk ke dalam jenis kayu keras.

Makam Kiai Jangkung

Syekh Siti Jenar

Isniawan menyebut pohon peninggalan Kiai Jangkung ini masih tersisa di sejumlah tempat seperti kawasan Kantor Desa Glonggong dan perkebunan warga.

Sejak kedatangan Kiai Jangkung, Islam berkembang cukup pesat di Nogosari. Meski belum ada penelitian yang mendalam, perkembangan keagamaan ini dibuktikan dengan munculnya langgar dan sejumlah pesantren.

"Selama ini cerita soal Kiai Jangkung di kalangan warga hanya tersebar dari mulut ke mulut," tuturnya.

Meski demikian, Isniawan berani mengakui kebenaran legenda tersebut. Dia berpijak pada cerita Syekh Siti Jenar, ulama pembawa Islam ke tanah Jawa. Dalam salah satu kisahnya, imbuh Isniawan, Syekh Siti Jenar disebutkan memiliki murid bernama Kiai Jangkung yang ikut menyebarkan Islam di tanah Jawa.

“Namanya sama, tapi yang dimaksud Syekh Jangkung di Glonggong atau bukan juga kurang tahu,” kata dia.

Kepala Desa Glonggong, Mulyono, menyebutkan di desanya makam Kiai Jangkung dan Mbah Dudo memang kerap menjadi tujuan ziarah warga lokal. Saat ini pemerintah desa berencana mengembangkan keduanya ke arah wisata religi sebagai potensi desa.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini