Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Hikayat Mbah Jangkung, Sang Penyebar Islam di Boyolali

Agregasi Solopos , Jurnalis-Rabu, 13 Februari 2019 |10:45 WIB
Hikayat Mbah Jangkung, Sang Penyebar Islam di Boyolali
Makam Mbah Jangkung di Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah (Foto: Solopos)
A
A
A

BOYOLALI - Di Dukuh Jangkungan, Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali, sepetak makam dengan pembatas berupa pagar tembok berwarna hijau tampak mencolok di tengah perkebunan jati desa setempat.

Pagar tembok yang menjadi pembatas makam dihiasi kaligrafi kuning di dalamnya yang merupakan kutipan ayat suci Alquran. Hanya ada dua buah batu nisan di sana, semuanya berwarna hitam tanpa terukir nama.

Satu batu nisan dilengkapi kijing terletak di dalam pagar. Sisi kanan dan kiri nisan itu tertutup kain kafan putih, sementara bagian tengahnya yang cekung dipenuhi bunga tabur. Meski tanpa ukiran, warga Glonggong percaya bahwa makam tersebut merupakan makam Mbah Jangkung. Sementara satu makam yang lain terletak di pagar tembok dan belum diketahui secara pasti identitasnya.

Mbah Jangkung ini pula lah yang menjadi cikal bakal penamaan Dukuh Jangkungan. Kabarnya Kiai Jangkung merupakan satu dari dua tokoh sentral dalam sejarah Desa Glonggong.

Satu tokoh lain bernama Mbah Dudo yang makamnya juga terletak di kawasan Desa Glonggong. Legenda lokal yang berkembang mengisahkan awalnya wilayah Glonggong dan Nogosari didiami oleh Mbah Dudo sebagai tetua masyarakat. Warga di sana hidup dalam tradisi Jawa yang kental sebelum Islam datang.

"Pembawa Islam ke Glonggong dan Nogosari yang pertama ya Kiai Jangkung ini,” kata tokoh masyarakat setempat, Isniawan (42) dikutip dari laman Solopos.com, Rabu (13/2/2019).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement