nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Muslim Uighur: Selama 7 Hari Saya Berada di Dalam Kamp Neraka China

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 10:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 14 18 2017757 cerita-muslim-uighur-selama-7-hari-saya-berada-di-dalam-kamp-neraka-china-J242a6aCAq.jpg nurbulat mengatakan pemerintah China menyita paspor orangtuanya. Foto/BBC Indonesia

Walau pemerintah China menyebutnya sebagai "pusat pelatihan kejuruan", tapi bagi Aibota Serik, seorang warga China keturunan Kazakhstan, tempat tersebut adalah penjara.

Ayahnya, Kudaybergen Serik, adalah imam setempat di daerah Tarbagatay (Tacheng), Xinjiang barat. Pada Februari 2018, polisi menahannya dan mengirimnya ke "pusat pelatihan kejuruan". Sejak saat itu Aibota tidak lagi mendengar kabar tentang ayahnya.

"Saya tidak mengetahui alasan pemenjaraan ayah saya. Dia tidak melanggar hukum manapun di China, dia tidak diadili di pengadilan," katanya, sambil memegang foto berukuran kecil sebelum kemudian menangis.

Saya bertemu Aibota bersama-sama sekelompok warga China keturunan Kazakh lainnya di Almaty, kota terbesar Kazakhstan.

Mereka berkumpul di sebuah kantor kecil untuk mengajukan petisi kepada pemerintah Kazakhstan agar membantu pembebasan keluarga mereka yang menghilang di "kamp re-edukasi politik".

Badan PBB tentang diskriminasi ras (UN Committee on the Elimination of Racial Discrimination) mendengar bahwa ada sejumlah laporan yang dapat dipercaya tentang sekitar satu juta orang yang ditahan di kamp di Xinjiang. Hampir semuanya dari kelompok minoritas Muslim, seperti Uighur, Kazakh dan lainnya.

Foto/BBC

Terdapat lebih dari satu juta orang Kazakh yang hidup di China. Setelah Uni Soviet bubar, ribuan orang pindah ke Kazakhstan yang kaya minyak, terdorong oleh kebijakan negara itu yang menarik perhatian kelompok Kazakh.

Sekarang, orang-orang itu merasa telah putus hubungan dengan kerabat mereka yang tetap tinggal di China.

Baca: Minimnya Respons Negara Muslim Terhadap Penindasan Etnis Uighur

Baca: PBB Klaim 1 Juta Minoritas Etnis Muslim Uighur Ditahan di Kamp-Kamp Politik China

Nurbulat Tursunjan uulu, yang pindah ke daerah Almaty pada 2016, mengatakan orang tuanya yang sudah lansia tidak bisa meninggalkan China dan datang ke Kazakhstan karena pemerintah mengambil paspor mereka.

Pengaju petisi lainnya, Bekmurat Nusupkan uulu, mengatakan kerabat di China takut berbicara di telepon atau di aplikasi pesan populer China, WeChat. Dan ketakutan mereka memang berdasar, katanya.

"Mertua laki-laki mengunjungi saya pada Februari 2018. Dari tempat saya, dia menelepon anak laki-lakinya di China, dia menanyakan keadaannya dan berbagai hal lain. Tidak lama kemudian anak laki-lakinya Baurzhan ditahan. Dia dikatakan telah menerima telepon dari Kazakhstan dua atau tiga kali dan kemudian dikirim ke kamp politik."

Foto/BBC

Human Rights Watch menyatakan para tahanan dibui "tanpa melalui proses yang menjadi haknya - tidak didakwa ataupun diadili - tidak diberikan akses ke pengacara ataupun keluarga."

Orynbek Koksybek adalah seorang etnik Kazakh yang selama berbulan-bulan berada di kamp.

"Saya menghabiskan tujuh hari di neraka di sana," katanya. "Tangan saya diborgol, kaki saya diikat. Mereka menjebloskan saya ke lubang. Saya mengulurkan kedua tangan dan melihat ke atas. Saat itu, mereka menyiram saya. Saya berteriak.

"Saya tidak ingat apa yang terjadi kemudian. Saya tidak mengetahui mengapa saya berada di lubang tetapi saat itu musim dingin dan cuaca sangat dingin. Mereka mengatakan saya seorang pengkhianat, bahwa saya memiliki dua kewarganegaraan, saya berutang dan memiliki tanah."

Tidak satu hal itu benar, katanya.

Seminggu kemudian Koksybek dibawa ke tempat lain dimana dia belajar bahasa dan lagu China. Dia diberitahu akan diizinkan pergi jika telah mengenal 3.000 kata.

"China menyatakannya sebagai kamp pendidikan kembali untuk mengajarkan orang. Tetapi jika mereka ingin mendidik, mengapa mereka memborgol orang?

"Mereka menahan Kazakh karena mereka Muslim. Mengapa memenjara mereka? Tujuan China adalah menjadikan Kazakh sebagai orang China. Mereka ingin menghapus seluruh etnis itu," katanya.

Foto/BBC

Tidaklah mungkin memastikan kebenaran cerita Orynbek Koksybek secara independen, tetapi penjelasannya sama dengan yang telah dicatat Human Rights Watch dan para pegiat lain.

Kedutaan Besar China di Kazakhstan tidak menjawab permintaan BBC untuk mengomentari hal ini, tetapi pemerintah China telah dikutip di media pemerintah mengatakan bahwa kamp itu adalah "pusat pelatihan kejuruan", yang bertujuan untuk "menghapuskan lingkungan yang melahirkan terorisme dan ekstremisme keagamaan".

Pemerintah Kazakh mengatakan pembatasan apapun terhadap warga China di China adalah masalah dalam negeri mereka dan tidak akan campur tangan.

Tetapi Kazakhstan mengatakan akan berusaha mencoba untuk membantu warga Kazakh manapun yang ditahan di China.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini