nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gerebek Pijat Plus-Plus, Polisi Pergoki Terapis Sedang Lakukan Pijat Vitality

Syaiful Islam, Jurnalis · Jum'at 15 Februari 2019 00:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 15 519 2018174 gerebek-pijat-plus-plus-polisi-pergoki-terapis-sedang-lakukan-pijat-vitality-P1LjpC1ElQ.jpg Polisi gerebek aktivitas pijat plus di Surabaya (Foto: Syaiful/Okezone)

SURABAYA - Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan penggrebekan terhadap tempat pijat yang memberikan layanan plus di Apartemen Metropolis Lantai 2 MS.B 207, Jalan Raya Tenggilis, Surabaya.

Saat dilakukan penggrebekan, polisi memergoki terapis sedang melakukan pijat vitality treatment (pijat seluruh badan sekaligus memijat alat vital pelanggan hingga dibantu mengeluarkan sperma) pada tamunya.

Kemudian polisi membawa para terapis yang bekerja di Miracle Spa and Massage ini ke polrestabes Surabaya untuk diperiksa. Mereka masing-masing berinisial DV (19), AR (19), HA (20), FA (17), RR (17), dan MV (19), yang semuanya merupakan warga Surabaya.

Ilustrasi

(Baca Juga: Ratusan Pelajar Dijual di Grup LINE 'TK Manjyaah', dari Video Porno hingga Esek-esek)

Polisi juga memintai keterangan dari tamu yang memakai jasa layanan plus-plus tersebut. Selain itu, petugas juga mengamankan pemilik pijat yakni Indrawan Yuda (34) warga Kedung Asem, Surabaya. Akhirnya polisi menetapkan Yuda sebagai tersangka dalam kasus ini dan menahan.

Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni, menjelaskan terungkapnya kasus tersebut berawal informasi dari masyarakat. Di mana menyebutkan ada tempat pijat yang melayani plus-plus.

"Saat digrebek ditemukan salah seorang terapis sedang melayani pelanggan pijat vitality treatment. Tarif yang dipatok tersangka untuk pijat selama 60 menit Rp 200 ribu. Jika ingin layanan plus menambah Rp200 ribu," ucap Ruth pada wartawan, Kamis (14/2/2019).

Menurut Ruth, tersangka memberi gaji pada para terapis atau korban senilai Rp1 juta perbulan. Lalu ditambah insentif sebesar 25 persen hasil uang yang diterima dari pelanggan.

"Kami jerat tersangka dengan Pasal 2 ayat 1 Jo pasal 17 UU RI No. 21 tahun 2007 tentang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan, Pasal 296 KUHP, dan Pasal 506 KUHP yang ancamannya 15 tahun penjara. BB yang kami sita diantaranya uang Rp200 ribu, handuk dan buku absensi," ujar Ruth.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini