nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

IJTI Kutuk Kekerasan Terhadap Jurnalis Dilakukan Massa Berseragam FPI di Munajat 212

Jum'at 22 Februari 2019 18:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 22 337 2021617 ijti-kutuk-kekerasan-terhadap-jurnalis-dilakukan-massa-berseragam-fpi-di-munajat-212-BrNy8ElZKs.jfif Saat massa Munajat 212 menangkap seorang diduga copet lalu mengintimidasi wartawan yang merekam aksi itu (Rizky/Okezone)

JAKARTA – Aksi kekerasan dan intimidasi dilakukan massa berseragam Laskar FPI terhadap sejumlah jurnalis yang meliput Munajat 212 di Monas, Jakarta Pusat, Kamis 21 Februari 2019 malam, terus menuai kecaman. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) juga mengutuk aksi kekerasan tersebut.

“IJTI mengutuk dan mengecam keras aksi kekerasan dan intimidasi terhadap para jurnalis yang dilakukan oleh sekelompok orang bersergam putih bertuliskan Laskar FPI di acara Munajat 212 di Monas, Kamis malam,” kata Ketua Umum IJTI, Yadi Hendriana, Jumat (22/2/2019).

IJTI meminta kepolisian mengusut kasus kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.

Sejumlah jurnalis dari media online dan TV mengalami kekerasan dan intimidasi saat meliput Munajat 212 di Monas.

Kekerasan ini bermula saat beberapa pemuda berseragam putih bertuliskan Laskar FPI yang turut mengamankan jalannya acara melarang wartawan merekam kericuhan saat terjadi penangkapan pria diduga pencopet di acara tersebut.

Sejumlah wartawan yang merekam penangkapan pencopet tersebut diintimidasi serta dirampas telepon genggamnya. Mereka dipaksa untuk menghapus video kericuhan tersebut.

Tidak hanya itu salah satu jurnalis juga mengalami perlakukan kasar, mulai dicekik, dicakar dan diseret oleh sejumlah orang. Sementara salah satu jurnalis media online yang berusaha melerai keributan ini justru kehilangan smartphonenya.

Menurut Yadi, intimidasi serta menghapus rekaman video dan foto dari para jurnalis yang tengah bertugas bisa dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

“Mereka telah menghalang-halangi kerja jurnalis untuk memenuhi hak publik dalam memperoleh informasi,” ujarnya.

Pasal 8 Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyatakan, dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum.

Kerja-kerja jurnalistik itu meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan kepada publik. Selain itu, mereka juga bisa dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, serta Pasal 18 UU Pers, dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta.

“Kekerasan terhadap jurnalis yang tengah bertugas adalah ancaman nyata bagi kebebasan pers dan demokrasi yang tengah tumbuh di Tanah Air,” kata Yadi.

IJTI mendesak kepolisian segera mengambil langkah tegas dan menangkap pelaku kekerasan terhadap jurnalis yang tengah meliput acara Munajat 212. Mengingat kerja jurnalis dilindungi dan dijamin oleh undang-undang.

“Meminta semua pihak agar tidak melakukan intimidasi serta kekerasan terhadap jurnalis yang tengah bertugas,” ujarnya.

IJTI juga mengingatkan kepada seluruh jurnalis di Indonesia agar selalu berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugasnya. Fungsi pers adalah menyuarakan kebenaran serta berpihak pada kepentingan orang banyak.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini