Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pemilu Tinggal 2 Bulan, Ini Elektabilitas Parpol Berdasar Survei IndEX

Fadel Prayoga , Jurnalis-Jum'at, 22 Februari 2019 |15:05 WIB
Pemilu Tinggal 2 Bulan, Ini Elektabilitas Parpol Berdasar Survei IndEX
ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Sebagai partai utama pengusung Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019, PDI Perjuangan disebut dalam keadaan "bahaya". Hasil survei yang dilakukan Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan elektabilitas partai besutan Megawati Soekarnoputri ini menurun tajam hingga ke posisi awal survei pertama indEX pada Desember 2018, yakni menyisakan 22,9 persen.

“Penurunan tajam capaian elektabilitas PDIP diperkirakan karena migrasi pemilih muslim ke partai-partai nasionalis lainnya,” ujar Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Faktor paling kuat yang menandai fenomena tersebut, kata Vivin, adalah bergabungnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menurut Vivin, publik masih sangat resisten dengan kemunculan kembali Ahok dalam kancah politik nasional. “Memori kasus penistaan agama pada Pilkada DKI terus terjaga, terlebih momentum reuni Alumni 212 yang tak pernah surut dukungan luas masyarakat,” kata Vivin.

"Ke mana larinya suara pemilih PDIP perlu ditelisik lebih lanjut. Tetapi kenaikan pada beberapa parpol lain yang berhaluan nasionalis menunjukkan kemungkinan perpindahan suara tersebut. Vivin menyebutkan parpol-parpol seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat yang cenderung stabil. Di sisi lain NasDem, PSI, dan Perindo mengalami peningkatan elektabilitas," tuturnya.

(Baca Juga: Survei LSI: Suara PDIP Turun di Pemilih Muslim)

Dijelaskan Vivin, elektabilitas Gerindra masih berada pada angka 14,8 persen, Golkar 10,5 persen, dan Demokrat 4,7 persen.

Sementara, NasDem sedikit mengalami kenaikan menjadi 4,3 persen, mendekati posisi Demokrat di lima besar. Demikian pula dengan Perindo yang naik elektabilitasnya menjadi 3,4 persen.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada Partai Solidaritas Indonesia (PSI). “Melejit ke angka 4,1 persen, PSI kini mengamankan posisi untuk dapat lolos menembus parliamentary threshold,” kata Vivin.

Publik tampaknya merindukan politik yang riang dan gembira, alih-alih adu kebohongan dan kebencian seperti marak di media sosial. “Video PSI tersebar luas di berbagai platform media sosial termasuk grup-grup Whatsapp,” tutur Vivin.

Faktor lain yang diduga berkontribusi pada peningkatan elektabilitas PSI adalah ketegasan sikap parpol tersebut soal pendirian rumah ibadah.

Parpol-parpol lain masih harus berjuang untuk bisa lolos ke Senayan, termasuk parpol seperti PPP (3,2 persen), PKS (3,0 persen), PAN (2,8 persen), dan Hanura (1,1 persen). Demikian pula dengan parpol kecil seperti PBB (0,8 persen), PKPI (0,3 persen), serta pendatang baru Berkarya (0,6 persen) dan Garuda (0,2 persen).

“Dengan memperhitungkan margin of error, Perindo akan menemani PSI sebagai parpol baru yang berpeluang masuk ke parlemen,” ujarnya.

Survei indEX Research dilakukan pada 11-15 Februari 2019, dengan jumlah responden 1200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement