nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasien di London "Bebas" HIV Setelah Pengobatan Sel Punca

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 07 Maret 2019 13:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 07 18 2027016 pasien-di-london-bebas-hiv-setelah-pengobatan-sel-punca-jyWBaLkTe9.jpg Ilustrasi. (Foto: Getty Images)

HIV seorang pasien di Inggris menjadi "tidak terdeteksi" setelah dilakukannya pencangkokan sel punca. Ini adalah kasus kedua sejenis, sebagaimana dilaporkan para dokter di jurnal Nature.

Pasien di Kota London, Inggris, yang dirawat karena penyakit kanker, sekarang dalam keadaan remisi dari HIV selama 18 bulan dan sudah tidak lagi memakan obat HIV. Tetapi para peneliti mengatakan terlalu dini untuk mengatakan pasien telah "sembuh" dari HIV.

Sejumlah ahli mengatakan pendekatan tersebut tidak praktis untuk menangani sebagian besar ODHA (orang dengan HIV/AIDS) tetapi suatu hari akan membantu ditemukannya obat.

Seorang pria pasien di Kota London yang tidak disebutkan namanya itu didiagnosis mengidap HIV pada 2003 dan menderita lymphoma Hodgkin lanjut pada 2012.

Dia menerima terapi kemo untuk mengatasi kanker Hodgkin dan kemudian sel punca ditanam ke pasien dari pendonor yang resisten terhadap HIV. Tindakan ini membuat kanker dan HIV-nya mengalami remisi.

Peneliti dari University College London, Imperial College London, Cambridge, dan Oxford Universities terlibat dalam kasus ini.

Bukan Tidak Normal

Ini adalah kedua kalinya seorang pasien yang dirawat seperti ini mengalami HIV dalam keadaan remisi. Sepuluh tahun lalu, pasien lain di Berlin, Jerman, menerima tranplantasi sumsum tulang belakang dari seorang donor yang kebal terhadap virus itu.

Timothy Brown, yang disebut-sebut sebagai orang pertama yang "mengalahkan" HIV/AIDS, diberikan dua pencangkokan dan radiotherapy seluruh tubuh karena leukemia.

"Dengan mencapai remisi pada pasien kedua dengan menggunakan pendekatan yang sama, kami telah menunjukkan bahwa pasien Berlin bukanlah suatu ketidaknormalan dan ini benar-benar pendekatan pengobatan yang dapat menghilangkan HIV dari dua orang," kata penulis utama kajian Prof Ravindra Gupta dari UCL.

Prof Eduardo Olavarria, yang juga terlibat dalam penelitian dari Imperial College London, mengatakan keberhasilan pencangkokan sel punca diharapkan menjadi strategi baru yang dapat dikembangkan untuk mengatasi virus.

Tetapi, dia menambahkan, "Perawatan ini tidak patut dipandang sebagai perawatan standar HIV karena tingkat racun terapi kemo, yang dalam kasus ini diperlukan untuk mengatasi lymphoma."

Ilustrasi obat HIV. (Foto: Getty Images)

Bagaimana Cara Kerjanya?

CCR5 adalah reseptor yang paling biasa dipakai HIV-1 –jenis virus HIV yang paling banyak ditemukan di dunia– untuk memasuki sel. Tetapi, sejumlah kecil orang yang kebal terhadap HIV memiliki dua kopi reseptor CCR5 yang termutasi. Ini berarti virus tidak dapat menembus sel di tubuh yang biasanya terinfeksi.

Pasien London menerima sel punca dari donor dengan mutasi genetik khusus yang membuatnya juga kebal terhadap HIV. Tetapi, simpanan sel pembawa HIV tetap ada di tubuh, dalam keadaan istirahat/remisi, selama bertahun-tahun.

Para peneliti di Inggris mengatakan adanya kemungkinan menggunakan terapi gen untuk menyasar reseptor CCR5 pada ODHA. Sekarang mereka mengetahui bahwa kesembuhan pasien di Berlin bukanlah suatu kebetulan.

Prof Graham Cooke, peneliti dari National Institute for Health Research dan pengajar penyakit infeksi dari Imperial College London, mengatakan hasil ini memberikan semangat kepada para peneliti.

"Jika kita bisa memahami lebih baik bagaimana prosedur ini dapat berhasil pada sejumlah pasien dan tidak efektif pada yang lain, kita akan semakin mendekati tujuan utama mengobati HIV. Tetapi sekarang prosedur ini masih terlalu berisiko untuk diterapkan."

Kemungkinan Signifikan

Dr Andrew Freedman, pengajar penyakit infeksi dan dokter konsultan kehormatan Cardiff University, mengatakan ini adalah sebuah laporan yang menarik dan kemungkinan signifikan.

Namun, dia mengatakan penelitian lanjutan yang lebih panjang diperlukan untuk memastikan virus tidak muncul kembali pada tahapan selanjutnya.

"Sementara jenis perawatan ini jelas tidak praktis dalam menangani jutaan orang di dunia yang hidup dengan HIV, laporan seperti ini dapat membantu dikembangkannya obat HIV."

Untuk sementara waktu, dia mengatakan fokus perlu dilakukan pada diagnosis HIV secepatnya dan memulai pasien pada terapi antiretroviral kombinasi seumur hidup (cART).

Ini dapat mencegah virus ditularkan ke pihak lain dan memberikan harapan hidup yang hampir normal kepada ODHA.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini