nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perizinan Meikarta Keluar Angka Rp20 Miliar untuk Perizinan

CDB Yudistira, Jurnalis · Rabu 13 Maret 2019 14:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 13 525 2029385 perizinan-meikarta-keluar-angka-rp20-miliar-untuk-perizinan-YWkTEJ4TP2.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

BANDUNG - Pengadilan Tipikor pada PN Bandung, kembali menggelar sidang suap perizinan proyek Meikarta, Rabu (12/3/2019).

Dalam sidang tersebut, hadir terdakwa Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Jamaludin, Sahat Banjarnahor, Neneng Rahmi Nurlaili, dan Dewi Tisnawati.

Adapun persidangan kali ini, beragendakan pemeriksaan saksi, yang dihadiri saksi EY Taufik selaku eks ajudan Neneng, Bartholomeus Toto selaku eks Presiden Direktur PT Lippo Cikarang dan dua anak buahnya yang mengurus perizinan Meikarta, Edi Dwi Soesianto dan Satriyadi.

Pada kesaksiannya saksi EY Taufik, diketahui pernah bertemu dengan saksi Edi dan Satriyadi di sebuah mesjid di Cibiru Kota Bandung. Saat itu, keduanya membicarakan pengajuan izin peruntukan dan pengolahan tanah (IPPT) seluas 430 hektare.

"Saya katakan silahkan saja diajukan. Lalu pak Satriyadi bilang, untuk perizinanya berapa," ujar EY Taufik.

 sd

Dari obrolan tersebut, EY Taufik menyebut saksi Satriyadi mengeluarkan angka Rp20 miliar guna pengurusan perizinan.

"Saya bilang akan saya sampaikan ke ibu bupati," ujar EY Taufik.

Satriyadi dan Edi Dwi Soesianto kemudian membuat permohonan IPPT untuk pembangunan tahap I seluas 143 hektare. Namun, setelah diproses di DPMPTSP Pemka Bekasi, yang disetujui hanya 84,6 hektar‎e dan ditandatangani oleh Neneng pada 12 Mei 2017, untuk IPPT.

"Karena IPPT yang disetujui 84,6 hektare, ibu yang meminta jadi Rp10 miliar. Saya kirimkan copy-nya ke pak Edi Dwi. Ibu Bupati tanya ke saya komitmen itu, dan beliau sampaikan Rp10 miliar itu bisa diangsur," ujar dia.

Adapun Edi Dwi Soesianto, menyanggupi permintaan uang Rp10 miliar tersebut dan menyampaikannya ke Bartholomeus Toto. Pemberian uang untuk Neneng via EY Taufik diberikan secara bertahap sejak Juni sampai November dan Januari 2018.

"Iya betul, saya sampaikan ke pak Toto dan di iyakan oleh beliau. Pemberian dilakukan pada Juni, Juli, Agustus, September dan Januari 2018 senilai Rp10,5 miliar. Yang Rp500 jutanya diberikan ke EY Taufik," kata Edi.

 sds

Setelah lunas, barulah dokumen IPPT itu diterima Edi Dwi Soesianto dan Satriyadi. Satriyadi membenarkan soal ia menjanjikan Rp20 miliar untuk semua perizinan Meikarta.

"Iya betul," ujar Satriyadi. ‎

Edi Dwi juga ditanya soal bagaimana kesepakatan semula Rp20 miliar, berubah jadi Rp10 miliar untuk IPPT.

"Ketika permohonan disampaikan, lalu seiring perjalanan waktu, dapat info dari Pak EY Taufik kalau IPPT disetujui meski hanya 84,6 hektare. Kami disampaikan Rp10 miliar," ujar Edi.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini