nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Mana Keberadaan 52 Warga Ponorogo yang Pindah ke Malang Akibat Isu Kiamat?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 15 Maret 2019 08:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 15 519 2030242 di-mana-keberadaan-52-warga-ponorogo-yang-pindah-ke-malang-akibat-isu-kiamat-I3O8zPeDeP.jpg Aliran di Ponorogo (BBC)

PONOROGO - Sebanyak 16 keluarga yang terdiri dari 52 orang warga Desa Watubonang, Ponorogo, Jawa Timur, bereksodus ke Kabupaten Malang, diduga untuk menyelamatkan diri dari apa yang mereka percayai sebagai 'hari kiamat'.

Namun demikian, keberadaan mereka sejauh ini masih belum diketahui, ujar Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni.

Baca juga:  Pengasuh Ponpes di Malang Sebut Meteor Jatuh Jelang Ramadan sebagai Tanda Kiamat

Ipong mengatakan ke-52 warga itu, yang mayoritas bekerja sebagai petani, adalah jamaah Thoriqoh Musa yang dipimpin oleh seorang warga desa bernama Khotimun.

Menurutnya, mereka meninggalkan desa secara bertahap dalam waktu dua minggu belakangan.

 https://img-z.okeinfo.net/content/2019/03/13/519/2029459/viral-52-warga-ponorogo-pindah-ke-malang-gara-gara-isu-kiamat-ini-faktanya-VE0gK9Tb0U.jpg

Sebagian orang-orang tersebut, ujar Ipong, mengatakan kepada tetangganya bahwa mereka hendak "mondok" di Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadin di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, untuk mengikuti guru mereka, Khotimun, yang berada di sana.

Beberapa warga lainnya, katanya, pergi tanpa pamit saat subuh, dengan menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi.

 Baca juga: Polisi Selidiki Isu "Kiamat Sudah Dekat" yang Resahkan Warga Ponorogo

Sebelum pergi, empat keluarga menjual harta benda mereka seperti rumah dan tanah. Ipong mengatakan satu keluarga menjual asetnya seharga Rp 110 juta, kata Bupati.

"Mereka ini menjadi masalah ketika ada yang menjual-jual harta dan konon katanya untuk menyelamatkan diri dari kiamat yang akan datang. Itu kan nggak masuk akal, masa ada kiamat lokal?" kata Ipong.

Ia menambahkan saat Pemerintah Kabupaten Ponorogo mencoba mencari orang-orang yang hijrah itu di Ponpes Malang, mereka tidak dapat ditemui atau dihubungi.

"Sekarang mati semua (ponselnya)," kata Ipong.

Dugaan doktrin kiamat

Ipong mengatakan ada mantan jamaah Thoriqoh Musa pimpinan Khotimun yang menginformasikan perpindahan itu dilatarbelakangi ajaran Khotimun bahwa kiamat sudah dekat.

 Baca juga: Selain Warga Ponorogo, Ada Ratusan Santri di Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin

"Kalau mau selamat harus ikut ke ponpes Miftahul Falahil Mubtadin Mubtadin. Yang kedua, Ramadhan ini akan ada perang besar maka setiap orang harus membeli pedang dari pak kiyainya (pengasuh ponpes)," kata Ipong menirukan informasi dari mantan jamaah.

Namun, Ipong mengatakan dia belum melihat bukti pedang itu karena dia mengatakan dirinya tidak berhak untuk menggeledah rumah jamaah.

Ipong menyebut warga juga diimbau membeli foto ketua ponpes seharga Rp1 juta untuk meredam gempa bumi di rumah mereka.

 Baca juga: Heboh Kiamat Sudah Dekat, MUI Bantah Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin Sebarkan Ajaran Sesat

Selain itu, Ipong mengatakan, warga diduga didoktrin untuk tidak menyekolahkan anak karena tidak ada gunanya. Terkait dengan itu, Ipong mengatakan sepuluh anak jamaah sudah dikeluarkan dari sekolahnya dan kini mengikuti orang tua mereka 'berhijrah'.

Namun, lanjut Ipong, ketika hal ini dikonfirmasi ke pengurus Ponpes di Malang, mereka membantah menyebarkan ajaran-ajaran seperti itu.

Ipong mengatakan bahwa pemerintah kabupaten Ponorogo tengah meminta keterangan Khotimun di Ponpes terkait informasi-informasi tersebut. Pihak kepolisian, katanya, juga tengah mencoba meminta klarifikasi Khotimun.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini