
Roman instagramable juga dihadirkan melalui De Djawatan. Dengan pesonanya, destinasi ini disamakan dengan hutan dalam film Lord of The Rings. Pohon besar berlumut dengan beragam ornamennya yang unik. Untuk ilustrasi eksotisnya bahari The Sun Rise of Java bisa dilihat dari G-Land. G-Land adalah spot untuk surfing luar biasa, kawasannya alami, dan memiliki perairan 3 warna.
“Silahkan datang ke Banyuwangi untuk menikmati destinasi luar biasa ini. Banyuwangi ingin berbagi semua hal eksotis dan fantastik ini bersama masyarakat dunia. Yang jelas, kami bersyukur dengan semua potensi yang ada. Berkat pariwisata, kesejahteraan ekonomi Banyuwangi naik. Perkapita positif. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih kepada Kemenpar yang terus memberikan support,” jelas Yanuarto lagi.
Total mengembangkan pariwisata, Banyuwangi mendapat impact positif secara makro. Perekonomian The Sun Rise of Java kompetitif. Pada 2017, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi berada pada level 5,6%. Leading 0,53% dari nasional, lalu unggul 0,15% atas Jawa Timur. PDRB naik 115,4%. Angka riilnya pada 2018 Rp69,9 Triliun dengan perkapita Rp43,65 Juta.
“Kami kagum dengan pariwisata Banyuwangi. Pertumbuhannya itu luar biasa. Mereka juga aktif dalam promosi. Perkembangan Banyuwangi juga berimbas sampai Jember. Sebab, banyak wisatawan dari Banyuwangi yang melanjutkan kunjungannya ke Jember,” papar Pengusaha Jasa Spa asal Jember Ria Febria yang sedang berada di KLIA dan mendatangi Banyuwangi Cultural Week 2019.
Perbaikan ekonomi berpengaruh menyeluruh. Pada 2018, gini ratio di angka 0,29. Pengangguran terbuka turun 50% dan berada di angka 3,07%. Padahal, direntang 2010-an, angka pengangguran terbuka di angka 6%. Kemiskinan pada 2018 sekitar 8,64%, padahal 8 tahun sebelumnya 20,09%. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, pariwisata Banyuwangi bagus.