“Tari Topeng Cisalak berdiri pada tahun 1918 yang didirikan oleh Dji’un bin Dorak dan almarhumah Kinang binti Kinin yang di mana biasa mementaskan tari itu dari kampung ke kampung,” ujar Andi kala berbincang dengan Okezone di rumahnya Jalan Gadog Raya, Gang Melati Nomor 51, RT 03/RW 07, Kampung Cisalak, Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok belum lama ini.
Andi adalah generasi ketiga keturunan pewaris tari Topeng Betawi dari kakek neneknya. Ia melestarikan kesenian tersebut melalui Sanggar Kinang Putra dan Sanggar Ratna Sari. Dia juga aktif mengajar musik kesenian tradisional di perkampungan budaya Betawi, Jakarta Selatan.
Bicara soal mitos Tari Topeng Betawi, Andi tak memungkiri jika pada zaman dahulu, tarian itu dipercayai dapat menolak bala. Bahkan tak jarang, warga saat masa penjajahan Belanda itu kerap mengundang para penari Topeng Betawi untuk mengisi acara pesta hajatan dan maupun sekadar upaya menolak hal-hal negatif seperti musibah atau malapetaka.
"Misalnya ada orang yang sebelum manggil topeng (penari Topeng Betawi-red) anaknya dia sakit, kemudian diucapkan kata-katanya yang manjur dengan berharap maha kuasa. 'Elu kalau bisa sembuh dari penyakitnya, elu sehat panjang jodohnya mau dipanggilin (penari) topeng. Dia sembuh dan punya utang. Itu namanya nazar. Jadi, dulu secara umum kalau memanggil tari topeng itu untuk melakukan nazar," tuturnya.
Dia menyebut, tari Topeng Betawi dahulu tak hanya sebatas penolak bala, namun unsur mistisnya juga masih kental. Andi bercerita, jika dulu semasa neneknya masih hidup kata Andi, pernah ada yang kerasukan roh halus saat atraksi tari Topeng Betawi sedang berlangsung.