"Dahulu kalau belum dinariin topeng sama Mak Kinang, malah ada yang pernah kesurupan. Itu zaman dulu, ceritanya sekitar tahun 1940-an lah," kata dia.
Namun seiring berjalannya waktu, lanjut Andi, kepercayaan bahwa kesenian ini bisa jadi sarana penolak bala perlahan mulai luntur. Dia pun menolak dikatakan jika unsur mistis masih erat dengan tarian kebanggaan orang Betawi itu.
Saat ini, menurutnya, tari Topeng Betawi hanyalah kesenian biasa atau sebagai sarana hiburan di acara hajatan, seperti pesta pernikahan, khitanan, bahkan di ajang perlombaan.
"Sekarang itu manggung sesuai permintaan, ada untuk anak-anak lomba, nikahan, sunatan hingga pembukaan acara yang ada di luar negeri,” kata Andi sembari berharap agar warga Jakarta tidak sungkan mempelajari budayanya sendiri.
(Rizka Diputra)