Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Gunung Everest Mencair, Jasad-Jasad Pendaki yang Hilang Mulai Bermunculan

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Minggu, 24 Maret 2019 |07:38 WIB
Gunung Everest Mencair, Jasad-Jasad Pendaki yang Hilang Mulai Bermunculan
Sebagian besar jasad pendaki yang bermunculan berada di Gunung Es Khumbu. (Frank Bienewald)
A
A
A

Gletser yang menipis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gletser di wilayah Everest, seperti di sebagian besar Himalaya, mencair dan menipis dengan cepat.

Sebuah studi pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa kolam di Gletser Khumbu - yang harus diseberangi pendaki untuk mengukur puncak yang dahsyat - berkembang dan bergabung karena percepatan pencairan.

Tentara Nepal mengeringkan Danau Imja di dekat Gunung Everest pada tahun 2016 setelah air dari hasil pencairan gletser yang cepat telah mencapai tingkat yang berbahaya.

Tim peneliti lain, termasuk dari Universitas Leeds dan Aberystwyth di Inggris, tahun lalu mengebor Gletser Khumbu dan menemukan es lebih hangat dari yang diperkirakan.

Tercatata suhu minimum es hanya -3,3C, dengan es paling dingin pun menjadi 2C lebih hangat daripada suhu udara tahunan rata-rata.

Namun, tidak semua mayat yang muncul dari bawah es adalah karena krisis glasial yang cepat.

Sebagian besar mayat yang tewas berkaitan dengan insiden baru-baru ini di gunung (Ang Tashi Sherpa)

Beberapa dari mereka terkena juga karena pergerakan Gletser Khumbu, kata pendaki gunung.

"Karena pergerakan Gletser Khumbu, kami dapat melihat mayat dari waktu ke waktu," kata Tshering Pandey Bhote, wakil presiden Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal.

"Tapi kebanyakan pendaki siap secara mental untuk menemukan pemandangan seperti itu."

Jasad pendaki sebagai 'penanda'

Beberapa jasad yang ditemukan di lokasi lebih tinggi di Gunung Everest juga menjadi landmark atau penanda bagi para pendaki gunung.

Salah satunya adalah "sepatu hijau" di dekat puncak.

Mereka merujuk pada seorang pendaki yang meninggal di bawah batu yang menggantung. Sepatu bot hijau miliknya, masih berdiri, menghadapi rute pendakian.

Beberapa ahli pendakian mengatakan jasad itu kemudian dipindahkan, sementara pejabat pariwisata Nepal mengatakan mereka tidak memiliki informasi apakah jasad masih terlihat.

Memindahkan jasad dari kamp-kamp yang lebih tinggi bisa jadi mahal dan sulit.

Para ahli mengatakan biayanya US$40.000 hingga $80.000 untuk menurunkan mayat.

"Salah satu upaya yang paling sulit adalah dari ketinggian 8.700m, di dekat puncak," kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.

(Baca Juga : Pendaki Berjuluk 'Si Mesin Swiss' Tewas di Pegunungan Everest)

"Tubuh itu benar-benar beku dan beratnya 150 kg dan harus diturunkan dari tempat yang sulit di ketinggian itu."

Para ahli mengatakan setiap keputusan tentang apa yang harus dilakukan dengan jasad pendaki di gunung juga merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Kebanyakan pendaki suka dibiarkan di gunung jika mereka mati," kata Alan Arnette, seorang pendaki gunung terkemuka yang juga menulis tentang pendakian gunung.

"Jadi akan dianggap tidak sopan hanya memindahkan mereka kecuali mereka perlu dipindahkan dari rute pendakian atau keluarga mereka menginginkannya."

(Baca Juga : Larangan Dicabut, Pendaki Tanpa Kaki dari China Akan Berupaya Capai Puncak Everest)

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement