Perdana Menteri Mali Soumeylou Boubeye Maiga mengatakan bahwa Presiden Keita juga telah memerintahkan pembubaran kelompok anti-jihadis Dan Na Amassagou. Beberapa pejuang etnik Dogon dalam kelompok itu diduga berada di belakang serangan terhadap dua desa yang menewaskan 134 orang pekan lalu.
"Perlindungan populasi tetap dan akan tetap menjadi monopoli negara," kata Maiga. "Pasukan kita akan secara aktif melucuti setiap orang yang tidak boleh dipersenjatai."
Meskipun ada 4.500 pasukan Prancis di wilayah Sahel, serangan jihadis telah berlipat ganda sejak mereka pertama kali campur tangan memukul militan Islamis dan pemberontak Tuareg yang mengambil alih bagian utara Mali pada 2013.
Kementerian luar negeri Prancis mengatakan pihaknya menyambut "upaya pemerintah Mali untuk membubarkan milisi yang telah menciptakan teror di wilayah tersebut dan sekarang harus dilucuti."
(Rahman Asmardika)