BAMAKO – Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita pada Minggu memecat dan mengganti dua jenderal serta membubarkan pasukan siaga anti-jihadis menyusul pembantaian 134 penggembala etnis Fulani oleh kelompok bersenjata di wilayah tengah Mali yang bergejolak.
Konflik etnis berdarah itu terjadi hanya sepekan setelah serangan jihadis di sebuah pos militer di Mali bagian tengah menewaskan sedikitnya 23 tentara. Serangan tersebut diklaim oleh kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda.
Diwartakan Reuters, Senin (25/3/2019), Kepala staf Angkatan Darat Jenderal Bemba Moussa Keita dipindahkan dan digantikan oleh Jenderal Abdoulaye Coulibaly, sementara kepala pasukan darat Jenderal Abdrahamane Baby digantikan oleh Brigadir Jenderal Keba Sangare.
BACA JUGA: Sedikitnya 134 Tewas dalam Serangan Bermotif Etnis di Mali
Warga Mali telah lama dibuat frustrasi atas ketidakmampuan pemerintah untuk melindungi mereka dari serangan jihadis dan kekerasan etnis. Namun, pembantaian warga sipil di Desa Ogossagou dan Welingara pada Sabtu, yang meninggalkan tubuh perempuan dan anak-anak yang hangus terbakar di rumah mereka, telah mengejutkan populasi yang sudah terbiasa dengan pembunuhan tanpa alasan.