Dua Jenderal Mali Dipecat Pasca Serangan Etnis yang Menewaskan 134 Orang

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 25 Maret 2019 13:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 25 18 2034580 dua-jenderal-mali-dipecat-pasca-serangan-etnis-yang-menewaskan-134-orang-YgymMyrlNl.jpg Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita. (Foto: Reuters)

BAMAKO – Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita pada Minggu memecat dan mengganti dua jenderal serta membubarkan pasukan siaga anti-jihadis menyusul pembantaian 134 penggembala etnis Fulani oleh kelompok bersenjata di wilayah tengah Mali yang bergejolak.

Konflik etnis berdarah itu terjadi hanya sepekan setelah serangan jihadis di sebuah pos militer di Mali bagian tengah menewaskan sedikitnya 23 tentara. Serangan tersebut diklaim oleh kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

Diwartakan Reuters, Senin (25/3/2019), Kepala staf Angkatan Darat Jenderal Bemba Moussa Keita dipindahkan dan digantikan oleh Jenderal Abdoulaye Coulibaly, sementara kepala pasukan darat Jenderal Abdrahamane Baby digantikan oleh Brigadir Jenderal Keba Sangare.

BACA JUGA: Sedikitnya 134 Tewas dalam Serangan Bermotif Etnis di Mali

Warga Mali telah lama dibuat frustrasi atas ketidakmampuan pemerintah untuk melindungi mereka dari serangan jihadis dan kekerasan etnis. Namun, pembantaian warga sipil di Desa Ogossagou dan Welingara pada Sabtu, yang meninggalkan tubuh perempuan dan anak-anak yang hangus terbakar di rumah mereka, telah mengejutkan populasi yang sudah terbiasa dengan pembunuhan tanpa alasan.

Perdana Menteri Mali Soumeylou Boubeye Maiga mengatakan bahwa Presiden Keita juga telah memerintahkan pembubaran kelompok anti-jihadis Dan Na Amassagou. Beberapa pejuang etnik Dogon dalam kelompok itu diduga berada di belakang serangan terhadap dua desa yang menewaskan 134 orang pekan lalu.

"Perlindungan populasi tetap dan akan tetap menjadi monopoli negara," kata Maiga. "Pasukan kita akan secara aktif melucuti setiap orang yang tidak boleh dipersenjatai."

Meskipun ada 4.500 pasukan Prancis di wilayah Sahel, serangan jihadis telah berlipat ganda sejak mereka pertama kali campur tangan memukul militan Islamis dan pemberontak Tuareg yang mengambil alih bagian utara Mali pada 2013.

Kementerian luar negeri Prancis mengatakan pihaknya menyambut "upaya pemerintah Mali untuk membubarkan milisi yang telah menciptakan teror di wilayah tersebut dan sekarang harus dilucuti."

(dka)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini