Siapa Swing Voters dan Undecided Voters dalam Pilpres?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 26 Maret 2019 09:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 26 605 2034990 siapa-swing-voters-dan-undecided-voters-dalam-pilpres-tB2Cpo23kW.jpg Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Getty Images)

SEKIRA 11 hingga 15 persen pemilih mengatakan masih ragu-ragu dalam memilih calon presiden Joko Widodo atau Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Padahal, kurang dari sebulan lagi pemilihan presiden digelar pada Rabu 17 April. Para pemilih yang masih ragu ini adalah apa yang oleh lembaga survei disebut sebagai swing voters dan undecided voters.

Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie Massardi, menyebut mereka adalah masyarakat atau pemilih rasional yang berjumlah sekira 30 persen pada setiap pemilu. Mereka biasanya tidak puas dengan kinerja pemerintah dan tidak "sreg" dengan kandidat yang dicalonkan.

"Swing voters ini sampai hari tertentu dia tetap di tengah, tapi kemudian pada saatnya memilih kita baru menentukan pilihan," ujar Adhie kepada BBC News Indonesia, Senin 25 Maret 2019.

Hasil penjajakan dari sedikitnya lima lembaga survei menempatkan elektabilitas capres petahana Jokowi sekira 53 persen, sementara Prabowo 33 persen. Masing-masing kubu menyatakan berupaya berebut suara swing voters dalam kampanye terbuka yang digelar mulai Minggu 24 Maret. Suara swing voters yang notabene merupakan milenial menjadi rebutan.

Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Okezone)

"Kita sadar betul bahwa milenial memang segmen terbanyak dalam swing voters. Mengap mereka masih swing? Karena mereka adalah kaum paling kritis dan kaum paling susah untuk diyakinkan, karena mereka ini memilih sesuatu bukan karena tidak suka, tapi melihat mana yang programnya rasional dan tidak rasional," ujar Ferdinand Hutahaean, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Sementara Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga, menganggap suara swing voters berguna untuk "menebalkan" elektabiltas Jokowi. Salah satu strategi mereka mendapat suara pemilih yang masih ragu-ragu adalah tiga kartu sakti untuk "merayu" millennial swing voters.

"Yang kita tunjukkan selalu adalah program-program yang memang men-support teman-teman milenial berkembang, dan Pak Jokowi sangat concern untuk itu," ujar Arya.

Siapa yang Disebut Swing Voters?

Swing voter adalah istilah untuk mereka yang pada pemilu sebelumnya mendukung partai A, tetapi pada pemilu selanjutnya dapat berubah mendukung partai B. Sementara undecided voters merujuk pada kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan.

Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie Massardi, mengungkapkan mereka kebanyakan tinggal di kota besar dan berasal dari kalangan terdidik. Pemilh pemula yang berusia 17 hingga 20 tahun juga banyak yang memilih untuk tidak memilih.

Jokowi dan Prabowo Subianto. (Foto: Okezone)

"Ada juga di daerah, di pelosok-pelosok. Ini karena belum teredukasi oleh penyelenggara pemilu," ujar Adhie.

Adapun menurut survei termutakhir dari Charta Politika, jumlah pemilih yang belum memutuskan sebanyak 11 persen. Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, keraguan dirasakan kalangan pemilih berusia 21–35 tahun yang disebutnya sebagai "pemilih rasional".

Adapun swing voters banyak ditemui antara lain di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Faktor yang Menjadi Penentu Pilihan Swing Voters

Merujuk survei terakhir Charta Politika yang dilaksanakan pada 1–9 Maret terhadap 2.000 warga dewasa dan terdaftar sebagai pemilih, kebanyakan dari mereka (36,4 persen) menjawab akan menentukan pilihan berdasar penampilan debat calon presiden dan calon presiden.

"Mereka masih menunggu debat, ada asumsi swing voters adalah orang yang rasional, sehingga menarik bagaimana nanti kita melihat debat berikutnya," ujar Yunarto.

Adapun debat pilpres berikutnya akan digelar pada 30 Maret, dan debat terakhir akan dilaksanakan beberapa hari sebelum pencoblosan.

"Arah suara swing voters akan melihat dari dua debat yang tersisa, akan punya pengaruh, walaupun terbatas," imbuh dia.

Jokowi dan Prabowo Subianto. (Foto: Okezone)

Sementara 10 persen responden menyebut akan menentukan pilihan sesuai arahan atau imbauan tokoh agama.

Sedangkan sisanya menyatakan akan pilihan mereka bisa berubah jika ada bantuan sembako (9,2 persen) dan adanya pemberian uang atau money politics (8,4 persen).

Pemberian sembako dan uang biasanya dilakukan beberapa saat menjelang pencoblosan untuk mendulang suara, atau kerap disebut "serangan fajar".

Kendati begitu, Yunarto menyangsikan serangan fajar akan efektif mengubah perolehan suara, jika hanya dilakukan satu hari.

"Kalau hanya sehari, tidak akan mudah di tengah pertarungan emosi. Efek dari serangan fajar akan terlihat jika terjadi dua minggu sebelum pencoblosan," ucapnya.

Seberapa Penting Suara Swing Voters?

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, menegaskan bahwa suara swing voters sangat signifikan untuk mendulang perolehan suara.

"Kunci kemenangan ini kan siapa yang bisa menguasai undecided voters. Maka kita terus bergerak ke sana supaya mereka kemudian beralih menentukan pilihannya ke Prabowo," ujar Ferdinand.

Dia mengklaim selisih antara dua pasangan calon hanya satu digit. Jika suara undecided voters berhasil diraih, maka kubu Prabowo akan menang di kisaran 55–56 persen.

"Apalagi kalau ditambah lagi nanti swing voters bisa bergerak ke atas, sekitar 5 persen, maka Prabowo akan kita hitung memenangkan pemilu ini di angka 60 persen," ujarnya.

Adapun beberapa survei terakhir menunjukkan elektabilitas petahana Joko Widodo sekira 53 persen, sementara Prabowo Subianto 33 persen.

Kemudian survei terakhir Charta Politika yang dirilis pada Senin 25 Maret menunjukkan 53,6 persen pemilih mendukung Joko Widodo dan 35,4 persen mendukung Prabowo Subianto.

Jokowi dan Prabowo Subianto. (Foto: Okezone)

Dengan selisih yang terpaut jauh, Yunarto mengungkapkan bahwa suara swing voters dan undecided voters tidak akan berdampak signifikan menentukan suara.

"Secara matematika, kalau kondisinya ceteris paribus (tidak berubah) 100 persen undecided voters diambil Prabowo pun tidak cukup untuk mengalahkan Jokowi," ujarnya.

Kendati begitu, Yunarto mengakui dinamisasi suara kemungkinan bisa terjadi jika terjadi apa yang disebutnya "tsunami politik".

"Apa yang bisa menyebabkan perubahan? Kalau terjadi tsunami politik, kasus atau skandal yang menimpa langsung kandidat atau kalau terjadi krisis ekonomi," imbuh Yunarto.

Meski juga tidak menganggap suara swing voters signifikan terhadap perolehan suara mereka, Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga, menganggap suara swing voters berguna untuk "menebalkan" elektabiltas Jokowi.

"Yang kami lakukan saat ini adalah menebalkan kemenangan supaya legitimasi Pak Jokowi kuat, kami mengejar kemenangan Pak Jokowi melebih kemenangan SBY," ujar Arya.

Adapun dalam Pilpres 2009, persentase kemenangan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencapai 60,8 persen.

Apa Strategi untuk "Merayu" Swing Voters?

Masing-masing kubu mulai berebut suara swing voters dan undecided voters dalam kampanye terbuka yang dimulai pekan ini. Salah satunya strategi yang dilakukan oleh kubu Jokowi adalah tiga kartu sakti untuk merayu millennial swing voters.

Dalam kampanye terbuka perdana di Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Serang, Banten, Minggu 24 Maret 2019, Jokowi jualan tiga kartu sakti yang menjadi andalannya.

Tiga kartu sakti tersebut adalah Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Prakerja.

"Untuk ibu-ibu, nanti akan ada kartu sembako murah. Dengan kartu ini, pembelian beras, gula, akan diberikan diskon besar-besaran. Ibu-ibu setuju?" ujar Jokowi.

"Setuju!" ujar para pendukung Jokowi yang hadir di stadion tersebut.

Selanjutnya, Jokowi memperkenalkan KIP kuliah dan kartu prakerja. "Kartu prakerja ini untuk menjamin memasuki dunia kerja dan industri. Untuk lulusan SMA/SMK, tolong cari kartu seperti ini. Akan dilatih, baik itu di BUMN, kementerian, BLK, di dalam dan di luar negeri," ujar Jokowi.

Sambil mengacungkan contoh kartu prakerja, Jokowi menjelaskan kartu tersebut akan memberikan fasilitas pelatihan dan intensif honor setelah dalam proses sampai penerima kartu mendapatkan pekerjaan.

"Ada honor enam bulan sampai satu tahun sampai saudara semua mendapatkan pekerjaan. Siapa yang tidak setuju silakan maju?" ujar Jokowi.

"Rayuan" tiga kartu sakti ini dibenarkan oleh Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga, yang menyebut kartu tersebut memang ditujukan untuk kaum milenial.

"Saat ini bisa dikatakan usia bekerja kan antara 17–35 tahun adalah umurnya milenial, jadi itu adalah rayuan programnya Pak Jokowi untuk mereka," ujar Arya.

Kartu sakti Jokowi. (Foto: Okezone)

Sementara Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, mengatakan mengaku sadar betul bahwa milenial terbanyak di segmen swing voters.

"Mengapa mereka ini masing swing, karena milenial ini adalah kaum paling kritis dan kaum yang paling susah untuk diyakinkan karena mereka memilih sesuatu bukan karena faktor suka tidak suka, tapi melihat mana program yang rasional dan mana yang tidak rasional," kata dia.

Janji Jokowi yang menurutnya susah diwujudkan adalah kartu prakerja. "Ini adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin diwujudkan dengan kondisi perekonomian kita yang memburuk seperti ini," imbuh Ferdinand.

Dia juga mengklaim kebanyakan milenial kini lebih banyak memilih Prabowo, sementara sisanya akan diyakinkan bahwa Prabowo yang terbaik.

"Kita punya tokoh milenial, ada AHY dari Demokrat, ada Sandiaga Uno sebagai calon presiden dan ada tokoh-tokoh muda dari BPN yang akan bergerak meyakinkan kaum milenial ini dengan menjelaskan ini lho janji politik Prabowo dan ini rasional, masuk akal," ucapnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini