SEKIRA 11 hingga 15 persen pemilih mengatakan masih ragu-ragu dalam memilih calon presiden Joko Widodo atau Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Padahal, kurang dari sebulan lagi pemilihan presiden digelar pada Rabu 17 April. Para pemilih yang masih ragu ini adalah apa yang oleh lembaga survei disebut sebagai swing voters dan undecided voters.
Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie Massardi, menyebut mereka adalah masyarakat atau pemilih rasional yang berjumlah sekira 30 persen pada setiap pemilu. Mereka biasanya tidak puas dengan kinerja pemerintah dan tidak "sreg" dengan kandidat yang dicalonkan.
"Swing voters ini sampai hari tertentu dia tetap di tengah, tapi kemudian pada saatnya memilih kita baru menentukan pilihan," ujar Adhie kepada BBC News Indonesia, Senin 25 Maret 2019.
Hasil penjajakan dari sedikitnya lima lembaga survei menempatkan elektabilitas capres petahana Jokowi sekira 53 persen, sementara Prabowo 33 persen. Masing-masing kubu menyatakan berupaya berebut suara swing voters dalam kampanye terbuka yang digelar mulai Minggu 24 Maret. Suara swing voters yang notabene merupakan milenial menjadi rebutan.

"Kita sadar betul bahwa milenial memang segmen terbanyak dalam swing voters. Mengap mereka masih swing? Karena mereka adalah kaum paling kritis dan kaum paling susah untuk diyakinkan, karena mereka ini memilih sesuatu bukan karena tidak suka, tapi melihat mana yang programnya rasional dan tidak rasional," ujar Ferdinand Hutahaean, juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.
Sementara Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga, menganggap suara swing voters berguna untuk "menebalkan" elektabiltas Jokowi. Salah satu strategi mereka mendapat suara pemilih yang masih ragu-ragu adalah tiga kartu sakti untuk "merayu" millennial swing voters.
"Yang kita tunjukkan selalu adalah program-program yang memang men-support teman-teman milenial berkembang, dan Pak Jokowi sangat concern untuk itu," ujar Arya.