Litbang Kompas Tegaskan Tidak Berpihak ke Paslon Manapun

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Selasa 26 Maret 2019 15:46 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 26 605 2035182 litbang-kompas-tegaskan-tidak-berpihak-ke-paslon-manapun-ejiqn3pBhO.jpg (Foto: Sarah/Okezone)

JAKARTA - Peneliti Litbang Kompas, Toto Suryaningtyas menyadari bahwa hasil survei terhadap kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilres 2019 cukup berbeda dari lembaga-lembaga survei lainnya.

Seperti diketahui sebelumnya, berdasarkan survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019 menemukan hasil bahwa pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin kini 49,2 persen, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memiliki elektabilitas sebesar 37,4 persen.

“Soal hasil survei kami yang terakhir, memang memberikan hasil yang bisa dibilang agak berbeda dengan lembaga-lembaga yang lain,” ujar Toto Suryaningtyas pada forum diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019).

Toto pun terkejut dengan hasil survei yang dikeluarkan jajarannya. "Cukup surprise ketika melihat hasil semacam itu. Tapi kalau dilihat dari statistik angka, kami masih masuk rentan margin error dari lembaga-lembaga yang lain,” kata dia.

(Baca Juga: Mendagri Minta Masyarakat Gunakan Hak Pilih dan Tidak Golput)

Melalui hasil survei tersebut, banyak yang menuding bahwa Litbang Kompas memiliki kecenderungan keberpihakan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga yang dalam temuan survei itu memiliki elektabilitas yang menanjak dari survei sebelumnya pada Oktober 2018.

“Jadi kalau bicara sebetulnya angka kami tidak berbeda jauh, tetapi memang banyak yang bilang kami memakai angka skeptis. Lalu dari 02 melonjak, lalu pandangan dari publik semakin terbentuk, seakan-akan menempatkan kami pada kepemihakan tertentu,” ungkap Toto.

Mengenai tudingan dan pandangan masyarakat seperti itu, Toto pun langsung menegaskan bahwa pihaknya tidak memihak kepada siapapun. Ia mengklaim kalau Litbang Kompas melakukan survei dengan bersih dan tak condong terhadap apapun.

“Sementara dari kami sejak awal tidak ada skenario atau intensi baik dalam penyusunan konsep, kuisioner, itu tidak ada kecondongan apapun baik kepada 01 ataupun 02. Kalau sekarang hasilnya seperti itu, ada narasi-narasi mendorong untuk mengira kami mempunyai maksud tertentu. Itu kalau bisa saya sampaikan, itu tidak ada,” tuturnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini