Polisi Buru 2 DPO Lagi terkait Video Hoaks Server KPU Menangkan Jokowi

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Senin 08 April 2019 15:22 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 08 605 2040583 polisi-buru-2-dpo-lagi-terkait-video-hoaks-server-kpu-menangkan-jokowi-HpjTIAM7BS.jpg Karopenmas Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kepolisian masih memburu dua orang yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait menyebarkan berita hoaks di media sosial berupa video server Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah di-setting untuk memenangkan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin.

“Masih ada dua DPO, yang tengah didalami siber. Satu DPO yang menyampaikan secara verbal, sudah berhasil diidentifikasi, masih dikejar. Satu DPO lagi ikut dalam rangka membuat narasi narasi termasuk sebagai buzzer,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).

Dedi tak bisa merinci lebih jauh mengenai dua orang yang masuk dalam DPO. Namun, kedua orang itu diduga pembuat konten video dan peng-upload utama video tersebut.

“Untuk pembuatnya, dan pertama meng-upload masih kita lakukan pendalaman. Mereka ini polanya membuat fake account, kemudian melempar, dan kemudian menghilang. Jejak digital yang pertama kali memviralkan itu akun IG. Sekarang sudah shutdown,” katanya.

(Baca Juga: Polisi Tangkap 2 Orang Buzzer Terkait Video Hoaks Server KPU Menangkan Jokowi)

Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes (Pol) Dani Kustoni mengatakan, jajarannya bergerak setelah pada Jumat 5 April 2019 menerima laporan KPU terhadap beberapa akun.

“Memang ada beberapa akun dilaporkan KPU kurang lebih ada 8 akun dilaporkan, yang terindentifikasi yang lain anonymus. Sekarang masih penyelidikan dan ada 3 akun riil yang sudah kita tindak terhadap pelaku yang menyebarkan terkait pidato dan meng-upload bahwa server KPU di-setting memenangkan capres tertentu kurang lebih 57 persen,” kata Dani.

Ilustrasi

Polisi sebelumnya sudah menangkap dua orang, yakni EW dan RD. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Keduanya diciduk di lokasi berbeda. EW ditangkap di wilayah Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu 6 April 2019 dan RD di wilayah Lampung satu hari berselang.

(Baca Juga: Doa Kemenangan untuk Prabowo-Sandi dari Makkah)

Mereka merupakan buzzer, di mana tersangka EW berperan menyebar berita hoaks dengan akun Twitter-nya. Pada akun Twitter EW diketahui tersambung dengan aplikasi media berita (Babe) dan juga memiliki cukup banyak pengikut (follower). Sedang RD, berperan menyebar hoaks menggunakan akun media sosial Facebook dan Twitter.

Atas perbuatan itu, keduanya dikenakan Pasal 13 Ayat (3) dan Pasal 14 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dengan ancaman hukum penjara empat tahun.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini