nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Bakal Telusuri Sumber 'Serangan Fajar' Rp8 Miliar Bowo Sidik Pangarso

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 11:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 11 337 2041945 kpk-bakal-telusuri-sumber-serangan-fajar-rp8-miliar-bowo-sidik-pangarso-tLSn3FQCvY.jpg Febri Diansyah (Okezone)

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menelusuri sumber uang Rp8 miliar milik Politikus Golkar, Bowo Sidik Pangarso untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019. ‎Uang Rp8 miliar tersebut diduga berasal dari hasil penerimaan suap dan gratifikasi.

"Tentu kami akan telusuri lebih lanjut informasi-informasi yang relevan terkait dengan sumber dana dari sekitar Rp8 miliar tersebut," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

 Baca juga: Bowo Sidik "Bernyanyi", KPK Segera Panggil Nusron Wahid

Tak hanya soal sumber uang Rp8 miliar, kata Febri, penyidik juga sedang menelisik proses penukaran uang Rp8 miliar menjadi pecahan Rp50 ribu sampai Rp20 ribu yang akan dibagikan Bowo menjelang Pemilu. Serta, sejumlah penerimaan-penerimaan lain Bowo Sidik Pangarso.

 Bowo Sidik

"Kami juga proses penukarannya dan juga kasus kasus yang diduga merupakan penerimaan suap dan gratifikasi oleh BSP," jelasnya.

Sebelumnya, kuasa hukum Bowo Sidik Pangarso, Saut Edward Rajagukguk menyebut bahwa ada sejumlah uang yang diterima Bowo Sidik Pangarso ‎dari seorang menteri. Menteri tersebut menyumbangkan uangnya untuk serangan fajar Bowo Sidik Pangarso.

 Baca juga: Pengacara Bowo Sebut Ada Menteri Ikut Sumbang Uang untuk Serangan Fajar

Namun, Saut Rajagukguk tidak menjelaskan secara rinci siapa menteri yang menyum‎bang uangnya untuk kepentingan serangan fajar Bowo Sidik Pangarso. Tak hanya menteri, Saut juga mengungkap terdapat petinggi BUMN yang juga terkait dengan amplop serangan fajar ini. ‎Hal itu diungkapkan Saut juga tidak secara detail.

Menanggapi pernyataan kuasa hukum Bowo tersebut, Febri menjawab santai. Kata Febri, dirinya belum mengetahui adanya informasi tersebut. Pun demikian, jika Bowo Sidik Pangarso telah membeberkan adanya aliran uang dari seorang menteri di proses penyidikan, KPK tidak bisa membukanya secara terang.

"Saya belum tahu info itu. Kalaupun ada poin-poin yang disampaikan di proses penyidikan, saya kira juga tidak bisa dipublikasikan ya dari perspektif KPK. Karena hal tersebut dan merupakan bagian dari tekhnis penyidikan," ungkap Febri.

 Baca juga: Bowo Sidik Seret Nama Nusron Wahid, KPK: Pengakuan Perlu Pembuktian

Dalam perkara ini, Bowo Sidik diduga meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metric ton. Diduga, Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo disinyalir menerima suap karena telah membantu PT Humpuss agar kapal-kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) untuk m‎engangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerjasama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.

Bowo Sidik diduga‎ bukan hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total, uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya yakni sekira Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar di Pemilu 2019.

KPK sendiri telah menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. 82 kardus serta dua boks tersebut berisi uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dengan total Rp8 miliar yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini