nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Justice for Audrey, Menteri Yohana Akan Beri Pendampingan Khusus untuk Korban dan Tersangka

Demon Fajri, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 13:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 11 340 2042010 justice-for-audrey-menteri-yohana-akan-beri-pendampingan-khusus-untuk-korban-dan-tersangka-pQl88RVX0H.jpg Menteri PPPA Yohona Yambise (foto: Okezone)

BENGKULU - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menyoroti kasus penganiayaan yang menimpa siswi SMP bernama Audrey di Pontianak, Kalimantan Barat.

Dia menjelaskan, pihaknya akan melakukan pendampingan khusus kepada Audrey dan juga 3 orang pelaku yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni FZ alias LL (17), TR alias AR (17) dan NB alias EC (17).

Baca Juga: Justice for Audrey, Ini Fakta-Fakta Terbaru Kasus Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak 

''Kami akan mendampingi secara khusus untuk korban. Begitu juga dengan tersangka,'' kata Yohana, usai menghadiri peresmian 15 Centra Kerajianan Kelompok LPW Melati, di Gedung Olahraga (GOR) Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, Kamis (11/4/2019).

Pendampingan yang diberikan terhadap tersangka dan korban, kata Yohana, berupa pendampingan psikologis. Di mana saat ini korban maupun tersangka sudah dilakukan pendampingan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi (PPPA) Provinsi Kalimantan Barat.

Yohana menambahkan, pelaku akan dikenakan sistem peradilan anak diversi sesuai undang-undang. Sebab, ketiga tersangka tersebut masih di bawah umur.

''Ada UU khusus yang mengatur sistem peradilan anak diversi. Saya akan pergi ke sana (Pontianak). Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi (PPPA) Provinsi Kalimantan Barat,'' ucap Yohana.

Tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka di bawah umur, tegas Yohana, tidak ada ancaman hukuman mati. Dia menjelaskan, tersangka akan didampingi sehingga mereka akan menjadi perempuan hebat kelak usai menjalani hukuman.

Yohana menambahkan, pihaknya juag sedang mengkaji lebih dalam lagi atas kejadian yang dilakukan tersangka. Sebab, terang Yohana, tersangka bisa jadi melakukan kekerasan tersebut lantaran adanya kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga atau lingkungan keluarga.

''Umur-nya masih kecil tidak ada hukuman mati. Masalah ini sedang dikaji lebih dalam lagi. Kami juga akan menyelidiki orang tua tersangka apakaha di lingkungan mereka pernah terjadi kekerasan dalam rumah tangga atau tidak,'' terang Yohana.

''Bisa jadi orang tua salah asuh sehingga mereka berbuat seperti itu. Jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga maka sosiaslsiasi akan ditingkatkan lagi. Kalau orang tua baik maka anak akan menjadi baik juga,'' sambung Yohana.

Baca Juga: KPAI Cek Langsung Kondisi Audrey di Pontianak 

Di Indonesia, lanjut Yohana, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak cukup tinggi termasuk di Provinsi Bengkulu. Di Bengkulu, kata Yohana, sempat terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dialami Yuyun, salah satu siswi SMP di Kabupaten Rejang Lebong.

Terkait hal tersebut, terang Yohana, dari kementerian PPPA mengajak perempuan untuk ikut andil dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan melalui Model Industri Rumahan (IR). Sehingga kesenjangan tidak ada terjadi di lingkungan masyarakat.

"Jadi saya datang ke sini (Bengkulu) bukan ngomong masalah kasus lagi. Saat datang lagi berbicara soal keterlibatan dalam pemberdayaan ekonomi," tutur Yohana.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini