nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Paus Fransiskus Cium Kaki Pemimpin Sudan Selatan, Ada Apa?

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 10:34 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 12 18 2042398 paus-fransiskus-cium-kaki-pemimpin-sudan-selatan-ada-apa-LjxRVvYIM4.jpg Paus Fransiskus berlutut untuk mencium kaki Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir di Vatikan, 11 April 2019. (Foto: Vatican media/Reuters)

VATIKAN – Ada kejadian tak biasa yang terjadi dalam sebuah pertemuan di Vatikan pada Kamis, 11 April 2019. Dalam pertemuan tersebut, Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus tampak mencium kaki dari Pemimpin Sudan Selatan, Salva Kiir dan memintanya untuk tidak kembali mengobarkan perang sipil.

Dia memohon kepada Presiden Salva Kiir dan mantan wakil Presiden Sudan Selatan yang menjadi pemimpin pemberontak Riek Machar, dan tiga wakil presiden lainnya untuk menghormati gencatan senjata yang mereka tandatangani dan berkomitmen untuk membentuk pemerintah persatuan bulan depan.

“Aku memintamu sebagai saudara untuk tetap damai. Saya bertanya kepada Anda dengan hati saya, mari kita maju. Akan ada banyak masalah tetapi mereka tidak akan mengalahkan kita. Atasi masalah Anda, ” kata Paus Fransiskus dalam pernyataannya kepada Kiir sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (12/4/2019).

Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan Paus Fransiskus. (Foto: Reuters)

Para pemimpin negara Afrika utara itu tampak terkejut ketika paus yang menderita sakit kaki kronis, dengan dibantu para pembantunya berlutut dengan susah payah mencium sepatu dari dua pemimpin yang berseteru dan beberapa orang lainnya di ruangan itu.

Permintaan Paus demi kedamaian di Sudan Selatan itu semakin dirasa penting karena saat ini kondisi di negara tetangganya, Sudan, juga tengah rawan menyusul terjadinya kudeta terhadap Presiden Omar al Bashir. Situasi tersebut membuat perjanjian perdamaian yang mengakhiri lima tahun perang sipil di Sudan Selatan terancam gagal.

Vatikan mempertemukan para pemimpin Sudan Selatan selama 24 jam untuk berdoa dan mendengarkan khotbah di kediaman paus dalam upaya untuk menyembuhkan perpecahan di antara kedua negara sebelum mereka membentuk pemerintah persatuan.

"Akan ada pergulatan, perselisihan di antara kamu, tetapi simpan dalam dirimu, di dalam kantor, untuk berbicara," kata Paus Fransiskus dalam bahasa Italia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. “Tapi di depan orang-orang, berpegangan tangan bersatu. Jadi, sebagai warga negara sederhana, Anda akan menjadi bapak bangsa. "

Sudan Selatan melepaskan diri dari Sudan pada 2011 setelah melalui perjuangan yang cukup panjang. Namun, dua tahun setelah merdeka, negara baru itu jatuh ke dalam perang saudara setelah Kiir memecat Machar yang berasal dari kelompok etnis yang berbeda, dari jabatannya sebagai wakil presiden.

Sekitar 400.000 orang tewas dan lebih dari sepertiga dari 12 juta warga Sudan Selatan di negara itu terpaksa mengungsi, memicu krisis pengungsi terburuk di Afrika sejak genosida Rwanda 1994.

Kedua belah pihak menandatangani kesepakatan pembagian kekuasaan pada September yang menyerukan faksi-faksi saingan utama untuk berkumpul, menyaring dan melatih pasukan masing-masing untuk menciptakan tentara nasional sebelum pembentukan pemerintahan persatuan bulan depan.

Dalam pidatonya yang dipersiapkan sebelumnya pada Kamis, Paus Fransiskus mengatakan bahwa rakyat Sudan Selatan kelelahan akibat perang dan para pemimpin memiliki tugas untuk membangun negara muda mereka dalam keadilan. Dia juga mengulangi keinginannya untuk mengunjungi negara itu bersama dengan para pemimpin agama lainnya untuk memperkuat perdamaian.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini