Mengapa Simbol Agama Laku Dijadikan Alat Politik di Indonesia?

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Senin 15 April 2019 18:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 15 606 2043828 mengapa-simbol-agama-laku-dijadikan-alat-politik-di-indonesia-vjn7r6Zq3w.jpg

JAKARTA - Ada yang berbeda dalam kontestasi Pemilu 2019 ini. Banyak calon legislatif hingga calon presiden yang memainkan isu berlatar agama dalam kampanye meraka.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman pun memandang bahwa pemilu kali ini sangat berbeda dibandingkan pesta demokrasi sebelumnya. Menurutnya, kini masyarakat sudah berani membicarakan agama dan politik secara terbuka.

"Sekarang ini banyak diskusi di ruang terbuka dan dibumbu-bumbui, ada bumbu politiknya, ada bumbu hukumnya, ada bumbu yang dengan marah dan senangnya itu bicara tentang agama, jadi sekarang itu banyak begitu," ujar Arief beberapa waktu lalu.

Menanggapi banyaknya simbol agama yang digunakan dalam pemilu, Anggota DPR Fraksi PKB, Lukmanul Khakim menyatakan bahwa agama kini seperti menjadi salah satu "komoditi" seiring dengan penggunaan politik identitas yang semakin menguat.

“Padahal faktanya negara kita bukan negara agama, tapi seringkali agama dijadikan sebagai alat politik,” tegas politikus muda daerah pemilihan Bojonegoro-Tuban ini, Senin (15/4/2019).

Dalam launching buku Adempol yang merupakan singkatan dari "Agama, Demokrasi dan Politik", Lukmanul Khakim menilai bahwa agama baiknya dijadikan landasan ideologi, bukan menjadi komoditi dengan menonjolkan simbol-simbolnya.

“Nilai dalam agama itu harus ditransformasikan dalam bentuk kebijakan politik yang objektif, bukan agama sebagai simbol dan alat Doktrinasi membangun militansi. Akhirnya lihat, agama dalam konteks sebagai Rahmat itu terabaikan,” tandas Lukman yang menulis buku Adempol sebagai sebuah Biografi Kertua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.

Sementara itu Muhaimin Iskandar yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa perjuangan politik harus disandarkan pada ideologi, dan agama, sangat berperan dalam pematangan ideologi. Ia pun mengapresiasi buku karya Lukmanul tersebut.

“Terima Kasih, saya tentu mengapresiasi dan bangga atas buku yang luar biasa ini. Perjuangan politik harus memiliki landasan nilai, ideologi dan jejak history yang tak terputus,” ungkap Cak Imin.

Hadir juga dalam acara sekaligus memberikan paparan terkait trilogi, agama demokrasi dan politik diantaranya pengamat politik Lili Romli dan wakil ketua Umum PBNU Macksoem Mahfud.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini