nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wabah Ebola di RD Kongo Telah Tewaskan 1.000 Orang

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 04 Mei 2019 13:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 04 18 2051459 wabah-ebola-di-rd-kongo-telah-tewaskan-1-000-orang-qswOJB1gdS.jpg Foto: Reuters.

KINSHASA - Wabah ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, menjadikannya wabah ebola paling mematikan dalam sejarah. Tingginya angka kematian itu juga disebabkan banyaknya kendala yang dialami dalam upaya penanganan wabah.

Wakil direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Michael Ryan mengatakan ketidakpercayaan dan kekerasan yang terjadi merusak upaya untuk mengatasi wabah ebola saat penyakit itu menyebar ke bagian timur RD Kongo.

Ryan mengatakan bahwa ada 119 serangan yang terdokumentasi terhadap pusat dan staf medis sejak Januari.

Dalam keterangan pers di Jenewa, dia mengatakan bahwa staf WHO mengantisipasi "kelanjutan penularan yang intens".

Petugas kesehatan memiliki banyak vaksin - lebih dari 100.000 orang telah diberikan perawatan. Tetapi berlanjutnya kekerasan di bagian timur RD Kongo di mana milisi bercokol, serta ketidakpercayaan terhadap dokter, menghambat program mereka.

"Kami masih menghadapi masalah besar penerimaan dan kepercayaan masyarakat," kata Ryan sebagaimana dilansir BBC, Sabtu (4/5/2019).

RD Kongo juga menderita wabah campak yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, dengan 50.000 kasus dilaporkan. Staf WHO telah mengonfirmasi berjangkitnya wabah campak di 14 dari 26 provinsi di negara itu, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan.

Wabah ebola masih terbatas dalam dua provinsi di RD Kongo tetapi pemantauan penyebaran virus itu menjadi lebih sulit dilakukan karena kekerasan yang merebak. WHO mengatakan risiko penyebaran global rendah, tetapi sangat mungkin kasus akan menyebar ke negara-negara tetangga.

Kebanyakan wabah Ebola berakhir dengan cepat dan memengaruhi sejumlah kecil orang. Hanya sekali sebelumnya wabah masih berkembang lebih dari delapan bulan setelah dimulai – pada epidemi di Afrika Barat antara 2013 dan 2016, yang menewaskan 11.310 orang.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini