Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pesan Kemenag Pasca-Pemilu 2019: Saatnya Bersatu Kembali di Bulan yang Suci

Arie Dwi Satrio , Jurnalis-Senin, 06 Mei 2019 |05:46 WIB
Pesan Kemenag Pasca-Pemilu 2019: Saatnya Bersatu Kembali di Bulan yang Suci
ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Kementeriaan Agama (Kemenag) meminta agar seluruh elemen menjadikan bulan suci Ramadan sebagai bulan muhasabah untuk saling mengintrospeksi diri masing-masing. Terlebih, pasca-adanya ketegangan antar berbagai pihak pada saat Pemilu serentak 2019.

"Lebih-lebih pasca Pilpres/Pileg di mana elemen-elemen bangsa terpolarisasi akibat kompetisi, kini saatnya menenggang rasa dan bersatu kembali, merajut kemajemukan untuk memajukan bangsa," kata Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag, Mastuki kepada Okezone, Senin (6/5/2019).

Menurut Mastuki, bulan Ramadan merupakan ajang untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas amal ibadah kepada Allah SWT. Lebih lanjut, Mastuki menekankan bahwa bulan Ramadan harus dijadikan sebagai momentum untuk mempersatukan toleransi antar umat beragama.

"Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, baik agama, budaya, adat istiadat, etnik, maupun bahasa dan faham keagamaan, Ramadan menjadi momentum untuk meneguhkan persatuan dan memperkuat toleransi di antara sesama," terangnya.

(Baca Juga: Ketum PP Muhammadiyah: Saatnya Bersatu Hilangkan 01 dan 02)

Dijelaskan Mastuki, ‎toleransi atau tenggang rasa (tepa selira) dalam bulan ramadan untuk meniscayakan dua pihak atau lebih dalam frekuensi yang sama untuk saling menghormati. Dimana, ada rasa saling menghormati bagi yang menjalankan puasa dan bukan beragama muslim.

"Bagi yang berpuasa perlu menenggang rasa orang yang tak berpuasa. Bagi muslim, ada banyak orang yang tak berpuasa karena kondisi yang mengharuskan ia boleh tak berpuasa. Misalnya pekerja kasar, ibu hamil dan menyusui, musafir, dan lain-lain. Di Indonesia juga banyak saudara kita non-muslim yang juga tak dikenakan kewajiban berpuasa," katanya.

"Tapi sebaliknya, yang tidak berpuasa juga wajib menghormati dan menenggang rasa saudaranya yang tengah berpuasa. Warung atau restoran yang biasanya buka siang hari, hendaklah menghormati saudaranya yang berpuasa. Caranya tentu kita punya wisdom masing-masing. Itulah makna tepa selitlra itu," tutur Mastuki.

(Angkasa Yudhistira)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement