nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Pelaku Mutilasi di Malang: Diduga Gangguan Jiwa hingga Gunting Lidah Pacar

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 17 Mei 2019 08:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 17 519 2056792 fakta-pelaku-mutilasi-di-malang-diduga-gangguan-jiwa-hingga-gunting-lidah-pacar-hW47PGIXwi.jpg Lokasi tempat tinggal pelaku mutilasi di Kota Malang. (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

KOTA MALANG – Kepolisian telah mengamankan seorang pria bernama Sugeng Santoso yang diduga menjadi pelaku mutilasi perempuan di Pasar Besar Kota Malang. Sejumlah fakta pun terkuak dari sosok Sugeng yang ditangkap pada Rabu 15 Mei sore itu, berikut beberapa di antaranya, sebagaimana dirangkum Okezone, Jumat (17/5/2019).

1. Pelaku Ditangkap Berdasarkan Petunjuk Tato

Nama Sugeng muncul di tato yang terdapat di telapak kaki kanan korban. Sementara di telapak kaki kiri terdapat tato bertuliskan 'Wahyu yang diterima keluarga Gereja Comboran bersama saudara'.

"Tato dibuat setelah korban meninggal dunia dengan menggunakan alat yang digunakan untuk sol sepatu, kemudian dikasih tinta bolpoin. Itu pesan dari korban," ungkap Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri.

2. Jejak Pelaku Terendus Anjing Pelacak

Guna mendalami kasus mutilasi di Lantai 2 Pasar Besar Kota Malang tersebut, polisi menerjunkan Unit K-9 Satwa Anjing Pelacak dari Polres Malang Kota saat olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Rabu 14 Mei siang.

Satu anjing pelacak ini dilibatkan untuk mengendus bau terduga pelaku dari pakaian dan sandal yang diamankan polisi dari lokasi kejadian.

"Dari baju sama sandal pelaku, menurut saya, pelaku terbiasa main di atas tempat minum di pojok itu tadi (kamar mandi sebelah selatan). Berdasarkan sumber bau, jadi di area parkir itu, pelaku tahu betul lokasi itu. Kalau ini lokasi semua diinjak orangnya ini, anjing akan mutar. Begitu tahu jalan keluar, dia kejar terus," jelas Kanit K-9 Polres Malang Kota Aiptu Imam Mukhson saat olah TKP.

Terbukti beberapa jam setelah olah TKP, polisi menemukan seseorang yang mirip dengan ciri-ciri yang sudah diidentifikasi tepat di depan Persemayaman Jenazah Panca Budi di Jalan Martadinata, sama saat sang anjing berhenti cukup lama, bahkan tidur di lokasi yang kerap disinggahi pelaku.

Pelaku Sugeng Santoso. (Foto: Avirista Midada/Okezone)

3. Pelaku Diduga Mengalami Gangguan Jiwa

Terduga pelaku mutilasi diduga mengidap gangguan jiwa. Hal itu terungkap dari keterangan motif pelaku melakukan mutilasi lantaran permintaan sang korban sendiri.

"Jadi, keterangan dari korban, setelah meninggal tolong untuk dilakukan mutilasi. Itu pesan dari korban, tapi masih kami dalami terus," ungkap Asfuri.

Polisi sendiri terus memeriksa kondisi kejiwaan pelaku sejak Kamis sore. "Pemeriksaan oleh psikiater kepada pelaku masih berlangsung tadi, dilaksanakan pukul 16.00, masih berlangsung hingga malam. Kami masih menunggu terkait perkembangan pelaku ini," terangnya lagi.

Bahkan dari penuturan Ketua RW 06 Jodipan Wetan, Mochammad Lutfi, pelaku pernah dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Porong, namun dinyatakan dalam kondisi normal. "Pernah dibawa ke RSJ Porong, tapi dikembalikan, katanya masih sehat dan normal," tuturnya.

Saat olah TKP kedua, Sugeng yang dibawa ke dalam mobil Jatanras Polres Malang Kota tampak berbicara sendiri di bangku belakang. Ia beberapa kali menunjukkan seolah melakukan percakapan sambil mengangguk-angguk meski tak ada yang mengajaknya berbicara.

4. Pelaku Sering Bawa Tas Ransel Berisi Senjata Tajam

Sugeng Santoso, terduga pelaku mutilasi perempuan di Pasar Besar Kota Malang, disebut warga tempat tinggalnya dahulu sering bepergian dengan membawa tas yang berisi senjata tajam.

"Sering bawa tas ransel isinya senjata tajam. Ada palu, gunting, dan senjata tajam lainnya," beber Ketua RW 06 Jodipan Wetan Mochammad Lutfi.

TKP mutilasi di Pasar Besar Kota Malang. (Foto: Avirista Midaada/Okezone)

5. Pelaku Sering Coret-Coret Tembok

Satu kebiasaan terduga pelaku mutilasi yang dihafal betul oleh Ketua RW 06 Jodipan Wetan Mochammad Lutfi yakni sering mencoret-coret tembok dengan tulisan yang isinya hampir sama.

"Makanya pas ada berita mutilasi dan ditemukan tulisan itu, saya sudah menebak masak itu Sugeng yang melakukan. Mengingat, tulisan di lokasi mutilasi sama dengan tulisan di tembok samping rumah yang pernah digunakan tidur enam bulan lalu," tambah Lutfi.

Benar saja, saat Okezone menelusuri rumah di Jodipan Wetan Gang 3 terdapat beberapa kemiripan di tembok rumah tersebut dengan tulisan yang Sugeng tulis di kertas sekitar lokasi penemuan potongan tubuh.

Ada beberapa tulisan di tembok tersebut, namun beberapa tulisan sudah dihapus oleh penghuni rumah dengan dicat ulang. Tapi masih ada empat tulisan besar dengan huruf tegak bersambung yang masih samar-samar terbaca, sedangkan dua tulisan lainnya berukuran lebih kecil.

"Ribuan taun hidupku jadi tak berarti. Dendamku Sugeng Santoso. Tak sanak famili selalu sendirian ribuan taun. Ruwet setiap hati dari perbuatanmu. Slalu ruwet Dendam sang arwah Sugengangga. Melalui para utusan Allah SWT besok kalau aku mati pembalasannya lebih kejam," isi tulisan Sugeng di tembok itu.

Sementara di tulisan lainnya Sugeng menuliskan, "PUSKESMAS KENDALKEREP KEREP ADA DI JODIPAN GANG 3 D DISPONSORI OLEH BOSNYA SUYITNO +SUJITO," isi tulisan lainnya.

(Foto: Avirista Midaada/Okezone)

6. Pelaku Terkenal Pribadi yang Pendiam dan Tertutup

Warga sekitar tempat tinggalnya dahulu mendeskripsikan Sugeng sebagai pribadi yang banyak diam dan tertutup. Ia jarang berbicara dan bertegur sapa.

"Keseharian pendiam. Sama warga juga tidak banyak interaksi," ucap Ketua RW 06 Jodipan Wetan Mochammad Lutfi.

Hal senada diucapkan tetangga pelaku, Aji Mustakim, yang mengaku jarang berkomunikasi dengan Sugeng.

"Memang orangnya pendiam, tapi cukup arogan, terlihat sombong. Kesehariannya tertutup sama seperti keluarganya," lanjut dia.

7. Pelaku Dikenal Kreatif dan Terampil

Meski pendiam dan tertutup, Sugeng dikenal sebagai orang yang kreatif dan terampil. "Anaknya diam, kadang rajin. Orangnya kreatif, pintar bikin pigura. Rumahnya sering diukur. Pokoknya kreatif, tapi sayang tidak tersalurkan," terang sang tetangga Aji Mustakim.

Di sisi lain, Ketua RW 06 Jodipan Wetan Mochammad Lutfi menyebut Sugeng memang pribadi yang senang menulis meski dengan tulisan yang dinilai misterius.

"Dia itu suka nulis-nulis di kertas atau tembok gitu. Saya sering kalau berangkat ke musala lewat sini (samping rumah yang digunakan tidur) sering baca tulisannya Sugeng. Dia juga selalu bawa pensil, kertas, dimasukkan ke tasnya," jelas Mochammad Lutfi.

Di sisi lain, kecerdikan Sugeng dibenarkan Kanit Inafis Polda Jawa Timur Kompol Adrial yang menyebut bila terduga pelaku sudah tahu bagian tubuh mana yang seharusnya dipotong.

"Dia ini pintar (memotong). Kemungkinan dia memang sudah tahu (bagian yang mudah dipotong)," ujar Adrial saat olah TKP kedua di Pasar Besar Kota Malang, Kamis 16 Mei 2019.

(Foto: Avirista Midaada/Okezone)

8. Pelaku Menggunting Lidah Pacar hingga Bakar Kasur Tetangga

Sugeng Santoso ternyata sering membuat ulah di lingkungan sekitar tempat tinggalnya dahulu di kawasan Jodipan Wetan Gang 3, Kota Malang.

Ketua RW 06 Jodipan Wetan Mochammad Lutfi masih ingat ada beberapa catatan ulah yang dibuat pria dengan lima saudara ini.

Lutfi menyebut Sugeng pernah menggunting lidah pacarnya saat berada di rumah keluarganya, dilanjutkan dengan memukul ayah kandungnya dengan palu.

Kemudian pria berusia 47 tahun ini juga pernah membakar kasur tetangga sekira 10 tahun lalu, beruntung rumah tetangganya tak terbakar.

"Membakar kasur tetangga sebelah rumah. Untung bisa dipadamkan tanpa membakar satu rumah tidak ada yang tidur. Akhirnya sama warga sini diusir sudah delapan tahun lalu, tapi enam bulan lalu kembali ke wilayah sini," beber Lutfi.

Cerita yang sama disampaikan Aji Mustakim yang merupakan tetangga sejak kecil Sugeng. Ia ingat betul bersama Cak Kaslan menghentikan ulah Sugeng saat menghalangi orang memadamkan api di rumah tetangganya.

"Dia (Sugeng) pernah membakar kasur tetangga itu, jadi sama dia (Sugeng) dihalangi yang mau memadamkan api. Dia bawa kursi mengancam akan memukul yang memadamkan api itu. Saya bersama Cak Kaslan yang merebut kursi dan memadamkan api itu," cerita Aji.

Tak hanya itu, Aji mengungkapkan bahwa Sugeng sering membuang sisa makanan ke tetangganya. "Sering buang kotoran sisa makanan. Kalau tidak enak, dibuang ke tetangga," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini