nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pintu Masuk Kecil yang "Menyelamatkan" Keraton Solo saat Banjir 1966

Bramantyo, Jurnalis · Minggu 26 Mei 2019 20:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 26 512 2060574 kisah-pintu-masuk-kecil-yang-menyelamatkan-keraton-solo-saat-banjir-1966-R26EDjoYKp.jpg Pintu kecil yang menyelamatkan Keraton Solo dari banjir pada 1966. (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO – Bagi masyarakat Kota Solo, Jawa Tengah, pintu masuk ke Keraton Kasunanan Surakarta ini tidak lagi asing. Meski ukurannya kecil dan bukan jalan masuk resmi ke lingkungan keraton, akses tersebut tidak pernah sepi dilalui masyarakat.

Jalan masuk ini ramai digunakan terutama saat Keraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi besar, seperti kirab benda pusaka, Jumenengan (kenaikan takhta) yang mengharuskan pintu utama ditutup karena sudah banyak masyarakat yang berkumpul di Kori Kamandungan, sudah pasti akses jalan ini menjadi satu-satunya akses masuk ke lingkungan keraton.

Meski sudah banyak yang tahu ada akses jalan masuk lain ke lingkungan keraton ini, biasa disebut brutulan atau lawang dodok atau pintu yang mengharuskan membungkuk ketika masuk, tidak banyak yang tahu bila pintu kecil ini pernah "menyelamatkan" keraton saat banjir besar menerpa Kota Solo pada 1966.

(Baca juga: Sambut Malam Lailatul Qodar, Kraton Solo Bagi-Bagi Berkah untuk Warga Solo)

(Foto: Bramantyo/Okezone)

Salah satu kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, RM Sriyo Panji Restu Budi Setiawan, mengatakan banyak yang mengira itu merupakan akses keluar-masuk para abdi dalem. Sebenarnya akses tersebut bukan salah satu pintu masuk ke keraton dan bukan pula akses masuk para abdi dalem.

Pria yang akrab di sapa Restu ini menjelaskan, Keraton Kasunanan Surakarta hanya memiliki empat pintu masuk utama. Keempatnya berada di empat penjuru mata angina, yaitu pintu di bagian timur, selatan, barat, dan selatan.

"Keraton hanya mempunyai empat pintu masuk utama, yaitu pintu utama di bagian timur, selatan, barat dan utara; dan pintu yang saat ini juga digunakan keluar-masuk masyarakat itu bukan pintu utama dan bukan pula lawang sosok. Kalau lawang dodok sendiri itu tempatnya bukan di situ," papar Restu saat berbincang dengan Okezone, Minggu (26/5)2019).

Lantas kalau bukan pintu utama atau pintu masuk para abdi dalem, mengapa pintu itu dibuat?

Menurut Restu, pintu yang ada di tembok tempat tinggal para abdi dalem di wilayah Gambuhan tersebut sebenarnya bukanlah sebuah pintu, tapi bagian dari tembok keraton yang sengaja dijebol oleh pihak keraton. Tembok sengaja dijebol agar air yang menggenangi Keraton Kasunanan Surakarta saat banjir besar melanda Kota Solo pada 1966 mengalir ke daerah Kalilarangan.

(Baca juga: Surat untuk Presiden Jokowi dari Keraton Solo)

(Foto: Bramantyo/Okezone)

Saat itu, ungkap Restu, Kota Solo dilanda banjir besar. Hampir semua wilayah di sana kebanjiran, termasuk lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Bisa dibayangkan dengan tembok berukuran cukup tinggi mengelilingi, membuat Keraton Solo bagaikan kolam penuh air. Bahkan, ketinggian air di dalam keraton saat itu sudah mencapai tiga perempat dari lawang gapit.

"Keraton saat itu sudah dikepung air. Ketinggian air sudah mencapai tiga perempat lawang gapit. Akibat banjir itu, benteng keraton di bagian selatan jebol tak kuat menahan air," papar Restu.

Kondisi tersebut membuat pihak keraton berpikir keras caranya mengurangi ketinggian air yang sudah mengepung dalam keraton. Pasalnya bila air tidak segera dikurangi bisa mengancam kehidupan di dalam keraton.

Hingga akhirnya dari pemetaan yang terus dilakukan pihak keraton untuk mencari cara mengurangi ketinggian air di dalam pun didapat. Mereka melihat tembok yang ada di tempat tinggal abdi dalem di wilayah Gambuhan sudah dalam posisi retak. Khawatir tembok di wilayah Gambuhan juga jebol seperti tembok keraton di bagian selatan, akhirnya pihak keraton menginstruksikan agar tembok di Gambuhan dijebol.

"Tujuannya agar air bisa keluar ke arah Kalilarangan, dan pilihan menjebol tembok Gambuhan itu pun cukup berhasil. Air di dalam lingkungan keraton berhasil berkurang. Selain tembok Gambuhan, keraton pun menjebol tembok di wilayah selatan," terang Restu.

(Baca juga: Gubernur Jateng Imbau Keraton Surakarta Musyawarah Selesaikan Konflik)

(Foto: Bramantyo/Okezone)

Cara itu pun berhasil. Air bisa keluar ke arah Kalilarangan. "Keraton tak lagi kebanjiran. Ada dua tembok yang dijebol selain tembok Gambuhan, yaitu diwilayah selatan," ujarnya.

Namun seiring berjalannya waktu, tembok keraton yang dijebol tersebut kini menjadi salah satu akses masuk ke lingkungan keraton.

Pihak keraton sendiri tidak punya rencana sama sekali untuk menutup tembok yang dijebol tersebut. Bahkan saat ini, akses masuk tak resmi itu menjadi vital di media sosial.

"Kalau sekarang akses masuk ke dalam keraton itu menjadi viral di medsos, tidak masalah. Yang penting bagi keraton, masyarakat bisa menggunakan akses itu dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini