nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ikhwanul Muslimin Sebut Kematian Morsi Sebagai "Pembunuhan Berencana"

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 18 Juni 2019 11:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 18 18 2067707 ikhwanul-muslimin-sebut-kematian-morsi-sebagai-pembunuhan-berencana-0GLMyudW5B.jpg Mantan Presiden Mesir Mohammed Morsi meninggal dunia setelah pingsan di ruang sidang pada 17 Juni 2019. (Foto: Reuters)

LONDON – Organisasi Ikhwanul Muslimin yang memiliki kaitan erat dengan mantan Presiden Mesir Mohammad Morsi yang meninggal dunia saat menjalani sidang di Kairo, mengatakan bahwa kematian pria berusia 67 tahun itu adalah sebuah “pembunuhan berencana”.

Diberitakan sebelumnya, Morsi jatuh pingsan tidak lama setelah berbicara dari balik kerangkeng tempat terdakwa, ketika menjalani sidang pada Senin. Morsi yang menjabat sebagai presiden Mesir antara Juni 2012 sampai Juli 2013 diadili atas tuduhan mata-mata setelah ditahan dan dipenjara menyusul kudeta pada 2013.

Morsi sebelumnya juga telah divonis 45 tahun penjara dalam tiga persidangan berbeda dengan berbagai tuduhan termasuk memimpin organisasi terlarang, penahanan dan penyiksaan demonstran anti-pemerintah, serta membocorkan rahasia negara.

BACA JUGA: Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi Meninggal Dunia Setelah Pingsan di Ruang Sidang

Dalam sebuah pernyataan di laman resminya, Ikhwanul Muslimin menyebut kematian Morsi sebagai “pembunuhan” dan menjelaskan bahwa mantan pimpinannya itu tidak mendapatkan pengobatan dan mendapat perlakuan yang tidak pantas selama penahanan.

"(Pemerintah Mesir) memasukkannya ke dalam sel isolasi ... mereka menahan obat-obatan dan memberinya makanan yang menjijikkan ... mereka tidak memberinya hak asasi manusia yang paling mendasar," demikian pernyataan yang disampaikan partai politik itu.

Mohammed Sudan, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin di London mengatakan bahwa Morsi adalah korban “pembunuhan berencana”. Dia menjelaskan bahwa sang mantan presiden telah dilarang menerima kunjungan oleh otoritas Mesir dan hanya ada sedikit informasi tentang kondisi kesehatannya.

"Dia telah ditempatkan di belakang kerangkeng kaca (selama persidangan). Tidak ada yang bisa mendengarnya atau tahu apa yang terjadi padanya. Dia belum menerima kunjungan selama berbulan-bulan atau hampir setahun. Sebelumnya, dia mengeluh tidak mendapatkan obatnya. Ini adalah pembunuhan terencana. Ini adalah kematian yang lambat," kata Sudan sebagaimana dilansir Al Jazeera, Selasa (18/6/2019).

Ikhwanul Muslimin juga menyerukan kepada rakyat Mesir untuk berkumpul dalam sebuah pemakaman massal dan di depan kedutaan-kedutaan Mesir di berbagai negara di dunia.

Morsi merupakan seorang pimpinan dan kandidat dari Ikhwanul Muslimin ketika dia menjadi presiden pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah modern Mesir pada 2012.

Pemerintahan Morsi tidak bertahan lama setelah diguncang demonstrasi besar-besaran karena dia dianggap membiarkan kelompok-kelompok berhaluan Islam garis keras mendominasi politik dan gagal memperbaiki perekonomian.

Pada 30 Juni 2013, tepat setahun setelah Morsi berkuasa, jutaan rakyat Mesir turun ke jalan menuntutnya mengundurkan diri dalam sebuah demonstrasi besar-besaran yang akhirnya berujung pada kudeta oleh militer Mesir pada 3 Juli 2013.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini