Ketua KPU: Sistem Situng Pilpres 2019 Pertama di Dunia

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 20 Juni 2019 16:23 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 20 605 2068781 ketua-kpu-sistem-situng-pilpres-2019-pertama-di-dunia-QhGPQRFrc7.jpg Ketua KPU Arief Budiman (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengklaim jika Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU pada Pilpres 2019, merupakan sistem pertama yang dilakukan dalam praktik pemilu di dunia.

Hal ini dikatakan Arief saat berada dalam sidang gugatan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Praktik ini, praktik yang pertama di dunia, menampilkan scanning berita acara dari TPS, dan hasil perhitungannya. Itu pertama yang dilakukan sepanjang saya tahu ya, di seluruh dunia,” kata Arief di ruang sidang MK, Jakarta Pusat, Kamis (20/6/2019).

Arief juga menyatakan jika banyak negara yang akan belajar kepada Indonesia mengenai praktik dari Situng tersebut agar dapat diterapkan.

“Pada saat saya mempresentasikan tentang hal ini di banyak pemilu di banyak negara, justru kemudian banyak negara itu mau belajar ke Indonesia tentang Situng ini,” tuturnya.

Sidang gugatan Pilpres di MK

Baca Juga: Saksi Ahli KPU Sebut Pengurangan Suara di Situng Menimpa 2 Paslon

Atas dasar itu, sambung Arief, pihaknya menilai keberadaan Situng sangat penting untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

“Itulah mengapa kami merasa keberadaan Situng sangat penting, bukan hanya dia penting secara teknis untuk memberikan informasti tetapi dia penting untuk membagun kredibilitas, integritas, dan kepercayaan publik terrhadap Pemilu itu sendiri,” kata Arief.

Sementara, Ahli IT yang dihadirkan KPU, Marsudi Wahyu Kisworo memberikan masukan ke KPU agar perdebatan menggenai Situng tak terjadi.

Menurut Marsudi, sebaiknya di website Situng pemilu berikutnya memisahkan data yang sudah divalidasi dan yang belum. Dengan menampilkan 2 data berbeda maka pengakses website situng bisa melihat mana data yang belum valid atau data belum valid.

"Harusnya situng tampilkan data tervalidasi dan validasi ditempat terpisah, kalau sekarang masih menjadi satu. Kalau boleh saya usulkan tampilkanlah halaman data tervalidasi, satu lagi yang sudah divalidasi," tutur Marsudi.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini