Share

Wifi Dimatikan, Pecandu Game Ini Coba Racuni Orang Tuanya

Rachmat Fahzry, Okezone · Jum'at 21 Juni 2019 21:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 21 18 2069386 wifi-dimatikan-pecandu-game-ini-coba-racuni-orang-tuanya-uNk6osYAYx.jpg Sak Duanjan (29) coba meracuni orang tuanya karena kesal wifi dimatikan. Foto/Mirror

BANGKOK – Seorang pecandu gim (game) mencoba meracuni orang tuanya sendiri setelah mereka mematikan Wifi.

Sak Duanjan (29) pulang dalam keadaan mabuk dan mulai bermain game di ponsel pintarnya dengan volume yang keras membuat orang tuanya sulit tidur.

Ayah tirinya, Chakri Khamruang (52) mengatakan ia bangun dan mematikan wifi, agar Sak tidak bisa bermain game dan tidak orang lain di rumah mereka di Sisaket, Thailand.

Namun Sak malah mengamuk, menghina ayah tirinya lalu merusak dinding rumah.

Chakri mengatakan dia tidak punya pilihan selain memukulnya agar anaknya tidak menyerang dia. Keributan berakhir dan Sak pergi tidur.

Tetapi keesokan paginya, ibunya Suban Duanjan (51) mengatakan dia menemukan pestisida yang tidak larut mengambang di kebun rumah keluarga saat akan mengambil air untuk memasak nasi.

Foto/Mirror

Ibu yang terguncang itu berkata bahwa dia terkejut bahwa putranya sendiri diduga mencoba membunuhnya dan suaminya.

"Saya melihat anak saya turun ke bawah dan meletakkan sesuatu di stoples sekitar jam 2 pagi,” kata dia.

"Saya bertanya kepadanya apa yang dia lakukan tetapi dia tidak menjawab dan kembali ke kamarnya. Jadi, aku membiarkannya pergi dan kembali tidur.

Baca: Marah Karena Dipecat, Perempuan di Thailand Habiskan Rp2,7 M dengan Kartu Kredit Perusahaan

Baca: Terjatuh dari Lantai 11 Hotel, Bocah 5 Tahun Selamat

Suban tidak tidak percaya anaknya tega meracuni dia. "Aku tahu dia mudah marah.

"Kami mencoba yang terbaik untuk mengatasi amarahnya tetapi kali ini sudah keterlaluan," ujar dia.

Foto/Mirror

Keluarga lalu menghubungi pihak berwenang setempat untuk meminta bantuan.

Sak mengaku telah memasukkan racun ke dalam persediaan air keluarga karena dia masih marah.

"Kami ingin petugas membawanya untuk dirawat di rumah sakit karena kami tidak ingin hidup dalam ketakutan saat dia menyerang kami,” tutur Suban.

"Dia sangat sering bermain di telepon, saya pikir itulah yang membuatnya stres,” lanjut dia.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini