Moeldoko Sebut 3.000 Massa Demo ke MK saat Putusan Gugatan Pilpres

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Rabu 26 Juni 2019 15:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 26 605 2071175 moeldoko-sebut-3-000-massa-demo-ke-mk-saat-putusan-gugatan-pilpres-RqpQdC9O0N.jpg KSP Moeldoko

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko berharap putusan sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) yang berlangsung besok, Kamis 27 Juni 2019 akan berjalan damai.

"Mudah-mudahan enggak panas. Kita sudah siapkan diri dengan baik. Jumlahnya (pengunjuk rasa) enggak terlalu banyak, namun kita tetap waspadai," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Moeldoko memprediksi sebanyak 2.500-3.000 massa akan berunjuk rasa saat putusan sengketa Pilpres 2019. Menurut dia, masih ada kelompok-kelompok yang ingin proses pembacaan putusan MK terus diwarnai aksi demonstrasi.

Mantan Panglima TNI menegaskan bahwa pihaknya telah memetakan kelompok-kelompok yang akan berdemonstrasi saat putusan MK tersebut. "Ya sudah bisa dikenali itu. Sudah bisa dikenali," paparnya.

Pengnjuk rasa di Pantung Kuda berfoto dengan polisi

Baca Juga: Jokowi Belum Dipastikan Hadir di Sidang Putusan Sengketa Pilpres

Moeldoko memastikan bahwa pihak-pihak yang ingin membuat kekacauan saat putusan sengketa Pilpres 2019 akan berhadapan dengan hukum.

"Ini kan negara demokrasi yang kedepankan hukum sebagai panglima. Siapapun yang tidak patuh ya pasti akan berhadapan dengan hukum, kan begitu. Apalagi nanti melakukan hal-hal yang bersifat anarkis," paparnya.

Lebih lanjut Moeldoko mengajak semua pihak menerima apapun putusan MK soal Pilpres 2019 tersebut. Ia tak hanya ingin proses pembacaan putusan tersebut berlangsung damai, namun kata dia, masyarakat Indonesia ingin semua persoalan Pemilu bisa diselesaikan dengan cara-cara terhormat dan bermartabat.

"Saya pikir hukum adalah solusi yang terbaik. Cara-cara jalanan adalah cara-cara yang tidak diinginkan oleh masyarakat umum karena mengganggu ketertiban umum, mengganggu kepentingan masyarakat dan mengganggu berbagai aktivitas. Pada akhirnya secara akumulatif menjadi tidak produktif bangsa ini," tuturnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini