JAKARTA - Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ((Pansel KPK) sudah bekerja menjaring calon pimpinan KPK. Ada 9 nama yang menjadi anggota Pansel dipimpin Yenti Garnasih. Namun, nama-nama yang menjadi anggota Pansel terus dikritisi.
Akademisi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Syamsuddin Radjab mengaku kecewa dengan nama-nama Pansel. Dia mengaku sudah tahu jejak rekam anggota Pansel yang ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut.
"Saya pesimis dengan Pansel ini dengan analisis aktor-aktor berbagai hubungan pansel, pribadi dan lembaga," ujar Syamsuddin saat menjadi narasumber pada diskusi publik bertajuk "Panitia Seleksi Dan Que Vadis Komisi Pemberantasan Korupsi," di Upnormal kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/6/2019).
Baca Juga: Belum Ada Unsur KPK Mendaftar sebagai Calon Pimpinan
Syamsuddin menyebutkan ada salah seorang anggota Pansel KPK yang suka merah-marah hanya karena masalah remeh temeh. Ada pansel itu marah-marah hanya urusan loundry, ujar dia pada diskusi yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah itu.

Ada juga anggota Pansel yang tak memiliki integritas dalam pemberantasan korupsi dan rekam jejak kurang bagus. Hal itu, kata dia, terlihat dari salah satu anggota Pansel yang tidak bisa melindungi pelaku bisnis di Tanah Air.
"Yang mestinya para pelaku bisnis Indonesia dilindungi malah dikriminalisasi," ujar eks ketua PBHI ini.
Direktur eksekutif Jenggala Center menegaskan nasib dan masa depan KPK tengah ditentukan oleh Pansel. Sebab, Pansel bekerja untuk merekrut calon pimpinan lembaga ad hoc yang dikenal super body dalam pemberantasan korupsi itu.
"Pada titiknya KPK sedang diinfiltasi. Ada kolompok yang bermain tindak pidana korupsi, ada pelanggar etik masalah diusulkan jadi pimpinan. Tidak ada artinta dia menjadi bagian dari pemberantasan korupsi," tutur dia.
Baca Juga: Pendaftar Capim KPK Baru 35 Orang, Berasal dari Pengacara hingga Pensiunan Polisi