Di Shanghai, Salah Memilah Sampah Bisa Didenda Rp102 Juta

Agregasi BBC Indonesia, · Jum'at 05 Juli 2019 09:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 05 18 2074889 di-shanghai-salah-memilah-sampah-bisa-didenda-rp102-juta-CrzIM3782N.jpg Penduduk Shanghai memilah sampah dengan benar agar tidak kena denda. (Foto: VCG/Getty Images)

PEMERINTAH Kota Shanghai, China, mengeluarkan aturan baru terkait sampah yang membuat warganya menjadi cemas. Penduduk yang tidak mematuhi aturan itu terancam denda besar dan penurunan tingkat "kredit sosial" yang berarti hak-hak ekonomi mereka bisa dicabut dan tidak bisa lagi jadi "warga kota teladan".

Aturan baru soal sampah yang mulai diterapkan pada Senin 1 Juli 2019 tersebut tergolong ambisius, mengingat Shanghai adalah salah satu kota terpadat di dunia dengan 24 juta penduduk.

Menurut beberapa laporan, hanya 10 persen sampah di sana didaur ulang, sementara statistik resmi menyatakan hanya 3.300 ton sampah daur ulang yang dikumpulkan setiap harinya, dan sisa limbah yang diangkat sebanyak 19.300 ton dan sampah dapur sebanyak 5.000 ton.

Menurut kantor berita resmi Xinhua, Shanghai merupakan salah satu penghasil sampah terbesar di China dengan produksi 9 juta ton per tahun.

(Foto: Beijing News)

Bagaimana Cara Kerja Aturan Baru?

Dalam aturan baru ini, sampah dibagi jadi empat golongan:

- Barang daur ulang seperti botol dan kaleng.

- Sampah berbahaya seperti baterai dan obat-obatan.

- Limbah dapur, umumnya sisa makanan.

- Sampah lain-lain, seperti limbah dari kamar mandi.

Kota Shanghai mempekerjakan ribuan instruktur dan melakukan puluhan ribu pelatihan agar orang mengerti cara memilah sampah mereka. Namun, penduduk tahu pihak berwenang mengawasi perilaku mereka dengan ketat.

Situs Shine menyatakan ratusan polisi dikerahkan ke seluruh kota untuk membagikan peringatan atau denda, jika diperlukan. Ini menyebabkan panik karena penduduk tidak punya pilihan kecuali sangat berhati-hati agar tidak melanggar aturan.

Perlu berpikir dua kali sebelum membuang wadah seperti botol dan harus mengosongkannya terlebih dulu.

Kantong plastik bekas juga harus dicuci agar terhindar dari hukuman. Beberapa produk mesti diurai dulu sebelum dibuang.

Apa yang Terjadi ketika Aturan Dilanggar?

Harian The Global Times melaporkan denda sebesar 200 yuan (sekira Rp411 ribu) untuk perorangan, sementara organisasi atau perusahaan bisa kena denda sampai 50.000 yuan (Rp102 juta). Jumlah ini berat bagi sebagian besar penduduk.

Sebagian besar penduduk Shanghai tinggal di apartemen dengan tempat sampah bersama, maka ada tekanan besar bagi penghuni untuk patuh pada aturan baru. Jika gagal, mereka bisa terkena hukuman secara kolektif.

Kekhawatiran lebih besar adalah penurunan tingkat "kredit sosial", sebuah sistem yang menilai tingkat kepercayaan warga negara pada perilaku sosial dan finansial mereka.

Orang dengan kredit sosial buruk bisa tersingkir dari pekerjaan bergengsi dan tidak boleh ke sekolah bagus.

Dalam kasus ekstrem, mereka bisa dilarang bepergian dengan pesawat atau tidak punya akses ke ruang-ruang publik.

(Foto: CCTV)

Tanggapan Penduduk soal Aturan Baru Ini

Liputan media menggambarkan banyak yang merasa gembira dengan dampak positif aturan ini terhadap lingkungan. Namun, banyak juga yang khawatir.

Puluhan ribu orang menggunakan tagar #DividingRubbishSoonSendsShanghaiCitizensCrazy, tapi kini dilarang oleh situs Sina Weibo.

Pengguna media sosial mulai mengeluarkan meme dan lagu yang viral, termasuk lagu populer yang liriknya sudah diplesetkan jadi soal memilah sampah dengan benar.

Reaksi Perusahaan

Hotel yang cenderung membuang sampah dalam jumlah besar berjuang menghadapi aturan baru itu, dan mereka mulai melarang penggunakan sikat gigi dan sisir sekali pakai.

Menurut situs berita Shine, Restoran dan usaha antar makanan juga melarang penggunaan alat makan sekali buang. Sejumlah perusahaan mengambil untung dari kecemasan ini.

Global Times melaporkan satu perusahaan antar makan menawarkan jasa untuk mengambil dan membuang sampah.

China News Service melaporkan perusahaan telekomunikasi China Telecom memperkenalkan sistem yang memberi imbalan orang yang melakukan daur ulang.

Mereka menampilkan gambar tempat sampah dengan merk yang memberikan pembayaran untuk sampah yang didaur ulang.

Perusahaan teknologi juga mengambil keuntungan dengan menciptakan permainan daring yang menurut kantor berita Xinhua menciptakan "cara menyenangkan untuk memilah sampah".

Kota Shanghai di China. (Foto: Getty Images)

Untuk Apa Aturan Ini?

China adalah salah satu negara penghasil polusi terbesar dengan jumlah penduduk 1,4 miliar. Pada 2017, 46 kota di China telah mulai dijadikan percontohan untuk pengelolaan sampah yang lebih ketat.

Pada 2020, China berharap bisa meningkatkan kapasitas daur ulang menjadi 35 persen dari seluruh sampah mereka. Namun, survei memperlihatkan sedikit yang bisa memilah sampah dengan baik.

Media bisnis Caixin menyatakan hampir tiga perempat orang dari 3.600 yang disurvei tidak bisa memahami pemilahan sampah dengan benar. Maka, kampanye besar-besaran di Shanghai ini menunjukkan kemajuan dan bisa diikuti oleh kota-kota lain di China.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini