Share

Iran Umumkan Rencana Baru soal Nuklir, Apa Itu?

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 07 Juli 2019 18:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 07 18 2075766 iran-umumkan-rencana-baru-soal-nuklir-apa-itu-b5RUp8xOer.jpg Pemimpin Iran (Foto EPA)

IRAN mengumumkan bahwa mereka akan melampaui batas pengayaan uranium, tindakan yang melanggar kesepakatan nuklir tahun 2015.

Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan Iran masih ingin menyelamatkan kesepakatan itu, tapi menyalahkan negara-negara Eropa yang disebutnya gagal memenuhi komitmen mereka sendiri.

Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018. Sejak saat itu, AS telah kembali memberlakukan sanksi tegas terhadap Iran.

Pengumuman Iran menandai pelanggaran terbaru atas kesepakatan nuklir.

Pada bulan Mei, Iran meningkatkan produksi pengayaan uranium, yang bisa digunakan membuat bahan bakar reaktor sekaligus senjata nuklir.

Negara itu telah menimbun lebih banyak uranium yang diperkaya daripada yang diizinkan, berdasarkan kesepakatan.

Namun, Iran membantah dengan keras bahwa mereka berniat untuk membangun senjata nuklir.

Apa yang diumumkan Iran?

Tepat setahun setelah AS menarik diri, Iran memberikan batas waktu 60 hari kepada lima negara lain yang menandatangani kesepakatan nuklir yakni China, Prancis, Jerman, Rusia dan Inggris, untuk melindunginya dari sanksi AS.Nuklir

Senjata nuklir (AFP)

Berbicara pada konferensi pers pada hari Minggu (07/07) di akhir tenggat waktu itu, Araqshi mengatakan Iran akan mulai memperkaya uranium di atas konsentrasi 3,67% dalam waktu beberapa jam, untuk menyediakan bahan bakar bagi pembangkit listrik di Bushehr.

Baca juga: Iran Masih Taati Perjanjian Program Nuklir 2015 Meski Disanksi AS

Hak atas foto EPA Image caption Iran mengatakan uranium yang diperkaya akan digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik di Bushehr.

Beberapa pejabat pemerintah sebelumnya mengatakan ini berarti konsentrasi sekitar 5% uranium standar senjata telah diperkaya hingga 90% atau lebih.

Baca juga: Donald Trump Tarik Amerika Serikat Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran

Bagaimanapun, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan bahwa Iran tidak akan membuat bahan bakar untuk reaktor di Tehran, yang membutuhkan konsentrasi 20%.

"Kami akan memperkaya uranium berdasarkan kebutuhan kami," ujarnya. "Saat ini kami tidak perlu memperkaya uranium untuk reaktor Tehran."

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Araqchi mengatakan Iran akan terus mengurangi komitmennya pada kesepakatan tahun 2015 setiap 60 hari.

Tapi ia juga menekankan bahwa diplomasi masih menjadi pilihan, asalkan sanksi dicabut.

Menteri energi Israel Yuval Steinitz telah mengkritik langkah terbaru Iran, mengatakan bahwa meskipun peningkatannya "sedang", Iran telah "memulai langkah... menuju senjata nuklir".

Pengumuman ini disampaikan sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan menyatakan "sangat khawatir" akan apa yang akan terjadi jika perjanjian itu diabaikan.

Rouhani meminta negara-negara Eropa untuk bertindak sekarang untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini