Meski Dijatuhi Sanksi AS, Iran Masih Taati Perjanjian Program Nuklir 2015

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 31 Agustus 2018 10:48 WIB
https: img.okezone.com content 2018 08 31 18 1944000 meski-dijatuhi-sanksi-as-iran-masih-taati-perjanjian-program-nuklir-2015-JXfwl88ePn.jpg Foto: Reuters.

WINA – Badan pengawas tenaga nuklir PBB menyatakan bahwa Iran masih membatasi aktivitas nuklirnya sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani dengan kekuatan dunia pada 2015. Meski begitu, Badan Energi Atom PBB (IAEA) mengatakan Iran dapat lebih bekerja sama dengan tim pemeriksa dan lebih jauh menumbuhkan kepercayaan.

Dalam laporannya untuk negara anggota perjanjian nuklir, IAEA menyatakan bahwa Teheran masih berada dalam batasan tingkat pengayaan uranium, stok uranium yang diperkaya dan barang-barang lainnya. Disebutkan bahwa IAEA telah berhasil melakukan semua inspeksi yang diperlukan untuk memverifikasi ketaatan Iran terhadap perjanjian nuklir 2015.

BACA JUGA: Trump Tarik Amerika Serikat Keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran

"Kerja sama yang tepat waktu dan proaktif oleh Iran dalam menyediakan akses tersebut telah memfasilitasi implementasi Protokol Tambahan dan meningkatkan kepercayaan," demikian disebutkan dalam laporan yang dibagikan kepada negara-negara anggota IAEA itu sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (31/8/2018).

“Tingkat produksi (uranium yang diperkaya) konstan. Tidak ada perubahan apa pun, ” tambah seorang diplomat senior.

Keluarnya Amerika Serikat (AS) dari perjanjian program nuklir pada Mei dan penerapan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran oleh Washington sempat menimbulkan kekhawatiran mengenai kelangsungan perjanjian program nuklir yang disebut sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu.

Berbicara setelah laporan IAEA dikirim ke negara-negara anggota, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian mengatakan kesepakatan nuklir dengan Iran masih berlaku, meskipun AS telah menarik diri.

BACA JUGA: Atasi Dampak Sanksi AS, Uni Eropa Suntikkan Dana Pembangunan untuk Iran

Dia mendesak sesama menteri, yang bertemu di Wina pada Kamis untuk membahas kebijakan Uni Eropa tentang Iran, untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi Teheran dari sanksi AS dan menyerukan "mekanisme keuangan permanen yang memungkinkan Iran untuk terus berdagang dengan Uni Eropa".

Pada Kamis, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif mengatakan, menaati JCPOA bukanlah satu-satunya pilihan untuk Iran. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei pada Rabu menyatakan ragu akan kemampuan negara-negara Eropa untuk menyelamatkan JCPOA sepeninggal AS dan mengatakan Teheran mungkin akan memutuskan keluar.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini