nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sesar Lagi Aktif, Bengkulu Diguncang 10 Kali Gempa

Demon Fajri, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2019 12:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 09 340 2076504 sesar-lagi-aktif-bengkulu-diguncang-10-kali-gempa-fmQqbnCXcC.jpg Ilustrasi Gempa Bumi (foto: Shutterstock)

BENGKULU - Provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam megathrust. Suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas dengan memiliki mekanisme pergerakan rata-rata, sesar naik.

Sehingga provinsi yang memiliki 10 kabupaten dan kota ini sering di landa banyak gempa dengan kedalam dangkal. Seperti yang terjadi pada Juli 2019.

Baca Juga: BMKG: 87 Gempa Susulan Terjadi Pasca-Gempa Magnitudo 7,1 Ternate 

PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah mengatakan, sejak awal Juli 2019, tercatat gempa telah menguncang wilayah Bengkulu sebanyak 10 kali.

Besarannya dari magnitudo 2,5 hingga magnitudo 5,0. Rentetan gempa tersebut dipengaruhi sesar di wilayah Bengkulu yang sedang aktif. Sehingga gempa kerap terjadi di provinsi yang di huni tidak kurang dari 1,9 juta penduduk ini.

Ilustrasi Gempa (foto: Okezone)

Di daerah ini terdapat dua segmen subduksi. Megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano. Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu.

Setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda. Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4.

Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu mencatat, Rentetan gempa pada Juli 2019, terhitung sejak Jumat 5 Juli 2019 hingga Selasa 9 Juli 2019, tercatat sebanyak 10 kali.

''Beberapa hari ini gempa di wilayah Bengkulu lebih aktif. Memang sempat tenang kurang lebih 2 bulan, sepertinya pelepasan energi. Selama Juli 2019 sudah ada 10 kali gempa,'' kata Sabar kepada Okezone, Selasa (9/7/2019).

''Gempa di bulan Juli, lebih dominan kejadian gempanya. Itu jika dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya. Tapi sebenarnya masih normal. Tidak perlu ada yang dicemasi,'' sambung Sabar.

Dari rentetan gempa sepanjang Juli 2019, gempa yang dirasakan cukup kencang pada Jumat 5 Juli 2019, berkekuatan M=5.0. Gempa itu terjadi pada pukul 16.40 WIB.

Gempa di Bengkulu Selatan (foto: BMKG)	 

Gempa itu berada di episenter pada koordinat 2.99 Lintang Selatan (LS) dan 101.09 Bujur Timur (BT) atau berada di barat daya Kabupaten Mukomuko, berjarak sekira 46 kilometer (KM), dengan kedalaman 10 kilometer (KM).

Gempa terakhir tercatat pada Selasa 9 Juli 2019, dengan M=4.0, pada 03.16 WIB. Berlokasi di 4.56 LS, 102.61 BT, berjarak 54 km Barat Daya Bengkulu Selatan, dengan kedalaman 30 km.

Gempa yang melanda itu berpusat dari berbagai daerah di Bengkulu. Mulai dari barat daya Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma dan barat daya Bengkulu Selatan serta tenggara Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Guncangan gempa itu, kata Sabar, adanya aktivitas subduksi. Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, namanya. Lempeng Indo-Australia, relatif bergerak ke arah utara. Sementara lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan.

Karakteristik gempa bumi yang terjadi pada bagian laut ini memiliki kekuatan mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa besar. Gempa bumi yang terjadi juga bisa berpotensi menimbulkan tsunami jika syarat-syarat terpenuhi.

''Tidak ada yang bisa memperkirakan kapan gempa terjadi begitu juga besaranya. Gempa di Bengkulu adanya aktivitas subduksi,'' jelas Sabar.

Ilustrasi Gempa (foto: Shutterstock)

Apakah gempa-gempa kecil bisa memicu gempa besar yang memicu gelombang tsunami? Sabar menjelaskan, kejadian tersebut kemungkinan bisa terjadi. Sebab, hal tersebut sempat terjadi pada gempa di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat 28 September 2018.

Sebab gempa besar, di Palu sempat diguncang gempa M=6 disusul M=7,4 yang kemudian memicu gelombang tsunami. Namun, kejadian gempa kecil diikuti gempa besar, tergolong jarang terjadi.

''Yang paling sering adalah gempa besar dahulu, baru diikuti gempa-gempa kecil,'' sampai Sabar.

Masyarakat Harus Selalu Waspada

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga bencana. Sebab, secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun gempa besar.

Seluruh lapisan masyarakat harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selain itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami.

Baca Juga: 50 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Magnitudo 7,0 Ternate 

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama sekira lebih dari 60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010.

Tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai, saat terjadi gempa kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.

''Hingga saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi. Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' ucap Sabar.

1
3

Berita Terkait

gempa

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini