nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagong, Buaya Berusia 103 Tahun Mati di Madiun

Agregasi Madiun Pos, Jurnalis · Rabu 10 Juli 2019 15:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 10 519 2077102 bagong-buaya-berusia-103-tahun-mati-di-madiun-Ulz91Yogod.jpg Kandang buaya di Madiun Umbul Square (Foto: Madiun Pos)

MADIUN - Seekor buaya muara penghuni Madiun Umbul Square mati di usianya yang mencapai lebih dari satu abad. Buaya yang diberi nama Bagong itu memiliki berat sekitar 200 kg dan panjang sekitar 5 meter.

Hasil visum yang dilakukan dokter hewan, buaya muara itu mati dengan kondisi mengalami luka-luka di bagian mulut dan hidung.

Direktur Madiun Umbul Square, Afri Handoko, mengatakan Bagong mati dalam usia yang mencapai 103 tahun. Bagong termasuk buaya tertua dan hewan tertua yang ada di Lembaga Konservasi Umbul Square.

Bagong diketahui mati pada hari Sabtu (6/7/2019). Saat itu petugas sudah mendapati buaya jantan itu tidak mau lagi makan dan diam saja. Namun, bangkai buaya tersebut kemudian baru dikubur pada Minggu (7/7/2019).

Ilustrasi

Afri menuturkan kematian Bagong itu bukan karena sakit, melainkan karena faktor usia.

"Kami merawatnya dengan baik. Kami juga memberikan nutrisi yang baik setiap hari kepada Bagong. Bagong ini mati karena usianya memang sudah tua. Hal yang wajar itu," kata dia saat ditemui Madiunpos.com di Madiun Umbul Square, Rabu (10/7/2019).

Mengenai kondisi Bagong yang penuh luka, kata Afri, luka-luka tersebut karena Bagong mengalami kebutaan. Sehingga di kandang buaya itu Bagong kerap menabrak tembok hingga membuat mulutnya terluka.

"Bagong itu buta sejak 2013. Jadi Bagong ini kalau makan harus didekatkan ke mulutnya," ujarnya.

Kapten Satwa Madiun Umbul Square, Prias Sukmana, menambahkan bangkai Bagong terpaksa dikuburkan di dalam lokasi kandang. Hal ini karena petugas kesulitan membawa bangkai buaya muara yang beratnya mencapai 200 kg itu.

Ilustrasi

Dia menuturkan sebenarnya bangkai buaya tersebut hendak diawetkan dengan menggunakan formalin. Tetapi, petugas kesulitan mencari formalin hingga akhirnya Bagong dikuburkan. "Hari Sabtu kan baru diketahui matinya. Kami berniat untuk mengawetkan tubuh buaya itu. Tetapi mencari formalin itu tidak ada. Akhirnya Minggu baru kami kuburkan," kata dia.

Prias menegaskan selama hidup di Umbul, Bagong selalu mendapatkan perawatan dan makanan yang tercukupi. Dalam sehari, petugas memberi makan buaya muara itu sebanyak 2 kg daging ayam.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini