Bertemu di MRT, Jokowi-Prabowo Dinilai Tak Mau Terlalu Lama Rakyat Terbelah

Puteranegara Batubara, Jurnalis · Sabtu 13 Juli 2019 17:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 13 605 2078475 bertemu-di-mrt-jokowi-prabowo-dinilai-tak-mau-terlalu-lama-rakyat-terbelah-exgHXpoLnj.jpg Jokowi dan Prabowo bertemu di MRT (Foto: Muchlis Jr/ Biro Pers Kepresidenan)

JAKARTA - Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akhirnya bertemu secara langsung dengan Prabowo Subianto pasca-Pilpres 2019 di Mass Rapid Transit (MRT). Dengan berlangsungnya pertemuan itu, kedua orang itu dianggap sebagai sosok negarawan.

Dianggap sosok negarawan, lantaran, Jokowi dan Prabowo telah melupakan kerasnya kompetisi di Pilpres. Pasalnya, hal itu dikarenakan mereka memiliki komitmen yang sama kuat terhadap Bangsa dan Negara.

"Beliau berdua tidak membiarkan terlalu lama rakyat terbelah sebagai dampak dari kompetisi politik tersebut," kata Ketua Umum Forum Satu Bangsa Hery Haryanto Azumi saat dikonfirmasi, Jakarta, Sabtu (13/7/2019).

Selain itu, Hery berpandangan bahwa rakyat harus bergembira atas terjadinya pertemuan ini. Menurutnya, karena mengindikasikan beberapa hal positif bagi Bangsa dan Negara Indonesia.

Jokowi dan Prabowo makan siang bersama di Senayan (Foto: Muchlis/Biro Pers Kepresidenan)

Baca Juga: 'Rekonsiliasi MRT' Jokowi-Prabowo Diharap Menular sampai Bawah Agar Tak Nyinyir Terus

Baca Juga: Jokowi & Prabowo Sepakat untuk Saling Mengunjungi

Selain itu, kata dia, pertemuan di lapangan tersebut memberikan pesan yang sangat kuat kepada publik bahwa kita harus bersatu dan bekerja sama untuk meneruskan pembangunan untuk kemajuan Bangsa Indonesia.

"Ketika bicara masalah bangsa dan negara, semua menyatakan kesiapannya untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Seluruh enerji bangsa harus didedikasikan untuk kemajuan dan keunggulan," ujar Hery.

Lalu, Hery menuturkan bahwa, pertemuan itu juga menunjukan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah contoh demokrasi yang sudah matang dan dapat menjadi contoh bagi negara-negara demokrasi lainnya, khusus negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim di dunia.

"Juga memberikan pesan yang kuat bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan beriringan," ucap Hery.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini