Sekitar 30 menit menikmati "brunch", Prabowo pun lebih dulu menyelesaikan makannya dan meninggalkan lokasi pertemuan pada sekitar pukul 11.20 WIB.
Ia diantar oleh Kepala BIN Budhi Gunawan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
"Kita siap membantu jadi apa saja, oposisi siap, 'check and balance' siap, yang penting negara kita kuat," kata Prabowo singkat di depan pintu keluar FX Senayan.
"Jenderal saya terima kasih, matur nuwun, Pak Menteri terima kasih," ungkap Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada Budi Gunawan lengkap dengan gerakan hormat di awal.
Sedangkan Jokowi masih tetap di lokasi restoran dan berbincang dengan Pramono Anung dan rombongan lain. Barulah sekitar 25 menit atau sekitar pukul 11.45 WIB, Jokowi juga memutuskan meninggalkan lokasi pertemuan dengan lebih dulu melayani swafoto dan salaman dengan warga.
Menurut Pramono, memang pertemuan itu sudah digagas cukup lama. Perencanaan itu termasuk bareng-bareng menaiki MRT hingga makan di Sate Khas Senayan yang menyediakan menu kesukaan kedua tokoh itu.
"Karena Pak Prabowo suka sate kambing, pak Jokowi suka pecel, tahu, tempe sehingga kombinasi inilah terjadi hari ini dan pertemuannya berjalan dengan baik," ungkap Pramono.
Sejumlah tokoh juga diakui Pramono menjembatani pertemuan tersebut termasuk Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).
"Pak Budi Gunawan ini kan kepala BIN, tentunya bekerja tanpa ada suara, dan alhamdulillah apa yang dikerjakan hari ini tercapai," ungkap Pramono.
Pramono juga berkeyakinan bahwa keduanya masih akan saling mengunjungi pascapertemuan pertama ini.
"Yang jelas berdua akan saling mengunjungi, akan ada pertemuan lanjutkan, pasti nanti. Beliau berdua juga akan bertemu kembali," tegas Pramono.
Senada dengan Pramono, Budi Karya mengungkapkan bahwa Budi Gunawan adalah tokoh penting yang menjadikan pertemuan itu nyata.
"Yang menjembatani ada Pak Pram, ada Pak BG (Budi Gunawan), Pak Edhy Prabowo itu orang baik semua, mereka memang bersahabat ya," kata Budi Karya di FX Mall di Jakarta, Sabtu.
MRT dipilih karena menjadi ikon masa depan bangsa Indonesia.
"MRT itu tempatnya netral, yang kedua ini visioner menuju kedepan. Menuju hal yang modern adalah suatu keniscayaan angkutan massal yang memang harus ada di kota besar. Jakarta sebagai kota besar yang memang akan menjadid kota yang madani angkutan masal memang menjadi suatu keharusan," tambah Budi Karya.
Meski begitu, Budi Karya tidak merinci apa yang dibicarakan Jokowi dan Prabowo selama sekitar 17 menit duduk bersama di dalam MRT.
"Dua pemimpin yang bersahabat ingin bertemu lagi, kangen, satu hal yang 'basic' sebagai manusia apalagi manusia yang dibutuhkan Indonesia untuk memberikan contoh. Suatu persahabatan yang luar biasa," tutur Budi Karya.
Akhirnya momen pertemuan yang dinanti-nanti sudah terjadi, sebutan "cebong-kampret" sudah berganti menjadi Garuda Indonesia, tidak ada lagi yang perlu ditunggu para pendukung untuk membuka hati agar dapat saling menerima satu sama lain meski punya pilihan politik berbeda, karena tujuannya adalah satu: membangun Indonesia.
(Fiddy Anggriawan )