Arief pun cukup menyayangkan kalau pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo tidak disambut baik oleh pendukungnya, seperti PA 212. Ia berharap pertemuan itu bisa dimaknai sebagai sebuah silahrurahmi kebangsaan.
"Artinya kan PA 212 itu kan dulu dalam koalisi adil makmur, nah sekarang sudah dibubarkan. Jadi maknanya pertemuan pak Jokowi dan Prabowo harus kita maknai sebuah silaturahmi kebangsaan, persatuan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Arief Poyuono juga mengimbau kepada para pendukung Prabowo untuk tidak menganggap pesaing dalam kontestasi demokrasi adalah sebagai seorang musuh.
"Jangan pernah kita menganggap dalam perhelatan kontestasi demokrasi yang menjadi pesaing kita itu musuh. Ya sudah selesai, bukunya harus ditutup, dan kita move on, looking forward, dan mengontrol pemerintahan yang menang ini," terang Arief.
(Edi Hidayat)