nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siswa SMA Taruna di Palembang Tewas Usai MOS, Pengawasan Pihak Sekolah Disorot

Muhamad Rizky, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 13:59 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 15 610 2079052 siswa-sma-taruna-di-palembang-tewas-usai-mos-pengawasan-pihak-sekolah-disorot-j1yOpyfoe6.jpg Ilustrasi Mayat (foto: Shutterstock)

JAKARTA - Aksi kekerasan saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) sering sekali terjadi. Masa pengenalan sekolah itu acap kali bukan menjadi ajang untuk pengenalan siswa baru terhadap lingkungan sekolah melainkan ajang balas dendam.

Baru-baru ini Siswa SMA Taruna Indonesia di Palembang, Sumatera Selatan, Delwyn Berli (14) diduga menjadi korban akibat MOS di sekolah. Ia meninggal setelah mengikuti rangkaian kegiatan MOS.

Baca Juga: Analisis Sosiolog soal Maraknya Kekerasan di Lembaga Pendidikan 

Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta mengatakan, kegiatan MOS di sekolah sudah lama berubah nama menjadi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk mengenalkan lingkungan baru sekolah terhadap siswa baru.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Menurutnya setiap kegiatan yang mengatasnamakan sekolah baik itu MOS ataupun MPLS maka pihak sekolah wajib bertanggungjawab atas setiap kegiatan yang dilaksanakan. Setiap sekolah juga tidak bisa seenaknya membuat kegiatan melainkan harus memperhatikan apa tujuan dan fungsi kegiatan tersebut.

"Jadi sekolah sangat mempertimbangkan kegiatan apa yang memang bermanfaat untuk orientasi, jadi itu ajang perkenalan bukan ajang menyiksa atau perpeloncoan terhadap adik kelas," kata Aully saat dikonfirmasi Okezone, Senin (15/7/2019).

Sebab kata Dia, kegiatan orientasi sekolah penting melibatkan guru-guru untuk melakukan pemantauan, kegiatan apa yang dilakukan karena apabila hal yang dibuat justru berbau kekerasan atau perpeloncoan akan menjadi mengkultur disetiap angkatan di sekolah. Akibatnya terjadi kebiasaan yang sulit untuk dihentikan.

"Sering sekali sekolah menyerahkan kegiatan tersebut kepada senior kepada OSIS yang mereka sendiri belum dapat memperhitungkan sampai sejauh mana orang itu akan mencapai batasan letihnya atau apakah kegiatan yang dibuat berakibat fatal atau tidak," tuturnya.

"Kalau kegiatan itu diserahkan kepada siswa tentunya siswa itu belum memiliki kemampuan yang cukup mumpuni untuk mempertimbangkan hal tersebut sehingga pengawasan MOS ini harusnya tetap di bawah pengawasan sekolah," paparnya.

Meski kerap memakan korban, lanjut Aully, pengenalan sekolah tidak perlu dihapuskan dengan catatan dilakukan pengawasan oleh pihak sekolah dengan baik. Pihak sekolah juga harus membekali diri sehingga saat membuat kegiatan orientasi memahami resiko yang ada.

Baca Juga: Tak Kerjakan PR, Puluhan Siswa Diduga Dipukuli Guru hingga Berdarah di Mentawai 

Di sisi lain menurutnya kegiatan orientasi sekolah juga sangat perlu dilakukan di sekolah sebab hal itu menjadi ajang pengenalan bagi siswa baru.

"Karena banyak hal yang positif dari MOS, ketika anak itu dari SMP tentunya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berbeda di SMA, kebutuhan itu berbeda. Nah, seharusnya hal itu yang diorientasikan kepada siswa jadi bukan kegiatan yang bersifat fisik yang sebenarnya belum mampu dilakukan. Seringkali MOS kurang perencanaan kurang pengawasan, sehingga mengakibatkan pelanggaran di luar tadi yang tujuannya positif," urai dia.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini