nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Donald Trump Klaim Banyak yang Setuju dengan Twitnya yang Rasis

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Selasa 16 Juli 2019 11:52 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 16 18 2079506 donald-trump-klaim-banyak-yang-setuju-dengan-twitnya-yang-rasis-fTtlkSNUQg.jpeg Presiden AS Donald Trump. Foto/AP News

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim banyak orang yang setuju dengan cuitannya yang dianggap sejumlah pihak bernada rasis karena meminta perempuan anggota kongres keturunan untuk pulang ke negara asal mereka.

"Itu bukan urusan saya karena banyak orang setuju dengan saya," kata Trump di Gedung Putih mengutip AP News, Selasa (16/7/2019). Menambahkan, "Ngomong-ngomong, banyak orang menyukainya."

Trump menulis di Twitternya bahwa para perempuan kongres, “berasal dari negara-negara yang pemerintahannya rusak, yang terburuk, paling korup dan tidak kompeten di mana pun di dunia."

Ia tidak menyebut nama dalam pernyataannya, tapi maksud cuitannya itu jelas ditujukan kepada empat perempuan anggota kongres, yakni Alexandria Ocasio-Cortez dari New York, Ilhan Omar dari Minnesota, Rashida Tlaib dari Michigan dan Ayanna Pressley dari Massachusetts.

Foto/Reuters

Keempat perempuan itu merupakan orang keturunan yang berhasil menjadi anggota kongres di AS.

Tlaib, yang lahir di Detroit, adalah orang Amerika pertama keturunan Palestina yang terpilih menjadi anggota kongres. Sementara Omar, yang melarikan diri dari Somalia yang dilanda perang sebagai seorang anak dan datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi, adalah wanita Muslim kulit hitam pertama di Kongres.

Baca JugaPresiden AS Donald Trump Dilarang Blokir Akun Twitter yang Mengkritiknya

Baca JugaDonald Trump Sebut Dubes Inggris untuk AS "Orang yang Sangat Bodoh"

Ocasio-Cortez, yang lahir di New York, adalah keturunan Puerto Rico, dan Pressley, yang lahir di Cincinnati, adalah orang Afrika-Amerika pertama yang dipilih untuk Kongres dari Massachusetts.

Foto/AP News

Trump pun memberi tahu kepada keempat perempuan itu bisa pergi kapan saja dari AS.

"Jika Anda tidak bahagia di AS, jika Anda terus mengeluh, Anda bisa pergi, Anda bisa pergi sekarang," katanya.

Berbicara kepada wartawan, keempat wanita itu—yang dikenal The Squad (Pasukan)—semua mengatakan mereka akan fokus harus pada kebijakan pemerintah dan bukan kata-kata presiden.

"Ini hanyalah gangguan dan gangguan dari kekacauan tak berperikemanusiaan dan budaya korup pemerintahan ini," kata Pressley.

Omar dan Tlaib mengulangi seruan mereka agar Trump dimakzulkan.

Pressley menolak upaya presiden untuk meminta keluar dari AS dan bungkam. Ia menambahkan bahwa mereka tidak hanya berempat.

"Pasukan kami besar. Pasukan kami termasuk siapa saja yang berkomitmen untuk membangun dunia yang lebih adil dan adil," katanya.

Keempat wanita bersikeras bahwa perawatan kesehatan, kekerasan senjata, dan khususnya penahanan migran di perbatasan AS dengan Meksiko harus menjadi fokus utama

"Mata sejarah mengawasi kita," kata Omar berkata, mengutuk "serangan deportasi massal" dan "pelanggaran hak asasi manusia di perbatasan".

Omar mengatakan serangan rasis Trump yang terang-terangan terhadap empat wanita kulit berwarna adalah agenda kaum nasionalis kulit putih, bahwa Trump ingin "memecah negara kita".

Tlaib menyebutnya "hanya kelanjutan dari buku rasis, xenophobia rasisnya. Kami tetap fokus meminta pertanggungjawabannya atas hukum negara ini," katanya.

Ocasio-Cortez bercerita ketika mengunjungi Washington DC saat masih kecil, orang-orang memberi tahu dirinya untuk tidak peduli dengan ucapan presiden ini, negara ini milik Anda".

"Kami tidak meninggalkan hal-hal yang kami sukai," katanya, menambahkan bahwa "pikiran dan pemimpin yang lemah membuat kami tertantang demi loyalitas ke negara dan beradu argumen soal kebijakan."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini