YOGYAKARTA – Sebanyak 52 desa di wilayah selatan DIY terpetakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Potensi tsunami di seluruh pesisir selatan Pulau Jawa karena pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menjadi alasan munculnya analisa tersebut.
Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana, menyampaikan dari 301 desa rawan bencana di DIY, 52 di antaranya mendapat predikat desa rawan bencana gempa dan tsunami. Menurut dia, desa-desa tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Gunungkidul, Bantul dan Kulon Progo yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
“Kami petakan, ada data 52 desa di wilayah DIY yang rawan gempa dan tsunami yakni di wilayah Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo. Desa-desa tersebut berada di kawasan pesisir, yang memang disebutkan berpotensi terdampak bencana tsunami seperti yang disampaikan peneliti BMKG,” ucapnya, mengutip krjogja.com, Selasa (23/7/2019).
Meski demikian, Biwara menyampaikan, potensi tsunami yang merujuk pada lembaga kompeten BMKG tersebut tak perlu disikapi dengan kepanikan masyarakat. BPBD DIY berupaya terus mengembangkan ketahanan masyarakat untuk meminimalkan dampak bencana yang mungkin terjadi.
“24 Juli 2019 nanti, tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan ekspedisi Destana Tsunami dan mampir di empat wilayah pesisir DIY meliputi Songbanyu Sadeng Gunungkidul, Kemadang Gunungkidul, Poncosari Kuwaru Bantul, dan Bugel Kulon Progo. Ini upaya mewujudkan masyarakat yang tangguh bencana sekaligus menciptakan rasa aman,” tutur Biwara.