nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Haru Lepasnya Rantai di Leher Kenaya, Anak Orangutan yang Dipelihara Ilegal

Ade Putra, Jurnalis · Kamis 25 Juli 2019 21:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 25 340 2083594 kisah-haru-lepasnya-rantai-di-leher-kenaya-anak-orangutan-yang-dipelihara-ilegal-7V2OyK66mg.jpg Kenaya akhirnya bebas dari rantai yang membelenggunya (Foto: IAR Indonesia)

PONTIANAK - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bekerja sama dengan International Animal Rescue (IAR) Indonesia kembali menyelamatkan satu individu orangutan peliharaan dari Dusun II Ampon, Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada Rabu (24/7/2019).

Orangutan berjenis kelamin betina ini dipelihara oleh seorang warga dusun bernama Yance. Olehnya, bayi orangutan diberi nama Kenaya. Kenaya merupakan korban pemeliharaan ilegal satwa liar dilindungi. Diperkirakan usianya baru satu tahun.

Kepada petugas, Yance mengaku menemukan bayi orangutan ketika sedang menebang pohon di Bukit Kenaya. Sementara induknya ditemukan mati.

Karena kasihan, Yance kemudian membawa bayi orangutan itu ke rumahnya dan dipeliharanya. Selama empat bulan dipelihara, Kenaya dalam kondisi leher dirantai di batang pohon. Tepat di belakang rumah. Dekat kandang babi. Apa yang dimakan keluarga Yance, itu pula yang diberi ke Kenaya.

Kenaya

Saat ini, Kenaya sedang menjalani masa rehabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), IAR Indonesia di Jalan Ketapang-Tanjungpura, KM 1,3, Dusun Pematang Merbau, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang.

"Kegiatan penyelamatan ini bermula dari laporan warga yang menginformasikan ada penduduk Desa Krio Hulu yang memelihara orangutan. Menanggapi laporan ini, IAR Indonesia mengirimkan tim untuk melakukan verifikasi laporan," ujar Karmele L. Sanchez, Direktur Program IAR Indonesia dalam keterangan resminya, Kamis (25/7/2019).

Menindaklanjuti hal itu dan setelah melakukan verifikasi, tim gabungan Wildlife Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang BKSDA Kalbar dan IAR Indonesia segera menuju lokasi untuk mengevakuasi orangutan tersebut.

Kenaya

Setibanya di lokasi yang ditempuh sekitar 10 jam lamanya, tim menemukan seorang warga yang memang memelihara orangutan secara ilegal di rumahnya. Dari pemeriksaan singkat di lokasi oleh dokter hewan IAR Indonesia yang turut serta dalam penyelamatan ini, Kenaya didiagnosis menderita penyakit kulit dan diduga menderita penyakit pernapasan.

"Kenaya saat ini sudah dibawa ke IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi satwa, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kenaya akan menjalani masa karantina selama 8 minggu," tutur Karmele.

Selama masa ini, Kenaya akan menjalani pemeriksaan secara detail oleh tim medis IAR Indonesia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan Kenaya tidak membawa penyakit berbahaya yang bisa menular ke orangutan lainnya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Karmele mengatakan, walaupun pemeliharaan orangutan merupakan pelanggaran hukum, kasus pemeliharaan orangutan masih dianggap hal yang biasa di Kabupaten Ketapang. Terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.

Padahal, pada kasus pemeliharaan bayi orangutan, hampir dapat dipastikan bahwa induk orangutan dibunuh untuk mendapatkan anaknya. Karena normalnya, bayi orangutan akan tinggal bersama induknya sampai usia 6-8 tahun. Selama anaknya belum berusia cukup untuk hidup mandiri, induk orangutan akan selalu menjaga anaknya.

“Kita bisa melihat perubahan yang sangat positif di masyarakat Ketapang. Karena jumlah orangutan yang dipelihara semakin sedikit karena masyarakat di Ketapang semakin paham dan mengerti mengenai pentingnya perlindungan orangutan," kata dia.

Makanya, dia sangat mengapresiasi peran dari masyarakat dalam melaporkan keberadaan orangutan yang menjadi satwa yang diperdagangkan dan dipelihara secara ilegal.

Sementara itu, Sadtata Noor Adirahmanta, Kepala Balai KSDA Kalbar menambahkan, masih seringnya dijumpai pemeliharaan orangutan oleh masyarakat dan gangguan terhadap habitatnya harus menjadi peringatan bagi para pejuang konservasi.

"Bahwa ternyata mindset masyarakat terhadap perlindungan tanaman dan satwa liar(TSL) dilindungi belum terbentuk secara memadai," ujar dia.

Ia menyebutkan, kegiatan-kegiatan penyelamatan yang selama ini sudah dilakukan akan terus berulang dan berulang kembali. "Sudah saatnya kini kita juga harus lebih fokus pada pembentukan persepsi dan perilaku masyarakat yang benar terhadap konservasi TSL dilindungi," katanya.

Untuk itu, kampanye dan pendidikan lingkungan mestinya dijalankan lebih masif lagi termasuk kepada generasi muda dan anak-anak sekolah. "Kedepannya diharapkan masyarakatlah yang akan menjadi pejuang-pejuang konservasi," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini