Dan itu benar! Karena langsung diturunkan dalam berbagai implementasi yang matching dengan sektor pariwisata. “Karena kita sama-sama menyakini Revolusi 3T itu bakal terjadi, dan kita harus menjemput dengan berbagai inovasi. 3T itu adalah Telecommunication, Transportation, Tourism,” jelas Arief Yahya.
Muhammad Awaluddin yang sama-sama berlatar belakang digital, strategic management, dan telco management ini diam-diam sudah banyak melakukan terobosan di AP II, untuk memperkuat akses pariwisata. Dialah yang berinisiatif dan punya ide untuk mendorong General Aviation for Tourism, dan menjadikan Bandara Banyuwangi sebagai pilot project nya.
“Pesawat kecil dengan seats di bawah 9 tempat duduk itu jumlahnya banyak dan bisa diberdayakan sebagai akses untuk jarak dekat. Ini akan menghidupkan pariwisata Banyuwangi dan sekaligus memaksimalkan utilitas bandara. Yang dibutuhkan adalah regulasi, agar potensi yang ada di akses ini bisa optimalisasi,” jelas Awaluddin, yang mengedepankan spirit Indonesia Incorporation.
Dia juga berhasil mengubah konsep Terminal 2F menjadi LCCT - Low Cost Carrier Terminal, untuk memperkuat akses pariwisata. Karena data pertumbuhan Low Cost Carrier di seluruh dunia bertumbuh agresif dengan rata-rata 2 digit. “Sekarang sudah running, dan pertumbuhan di LCC sangat signifikan,” kata Awaluddin, Dirut AP II.
Soal membuka akses baru, di destinasi wisata prioritas yang sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo juga dia implementasikan dengan baik. Sukses Silangit Airport dari tidak ada penerbangan regular sampai sekarang ada 6 pesawat landing atau 12 pergerakan menuju Danau Toba. Tahun 2018 bandara silangit mengangkut penumpang sebanyak 425.476 passangers. “Sekarang Silangit sudah menjadi international airport,” ungkap Awaluddin.